pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Langit
malam itu terlihat lebih indah dari biasanya. Entah karena lampu jalan yang
terasa redup, atau bintang-bintang yang memaksimalkan cahaya mereka agar
terlihat jelas oleh sepasang kekasih yang tengah memandangi mereka.
Di taman
kota, kursi panjang itu mengarah langsung ke sebuah mall yang menjadi salah
satu mall terbesar dan termewah di kota itu. Malam itu sekitar pukul 22.00,
hampir larut, tapi tidak menghentikan aktivitas orang-orang. Namun sebagian
besar adalah orang-orang yang sedang bermain atau sekedar refreshing setelah melewati hari-hari yang panjang. Bersama
keluarga, teman, atau kekasih.
Di
tengah keramaian itu, Isa dan Bella duduk di kursi panjang yang mengarah
langsung ke mall. Mereka bersama memandangi langit yang penuh bintang. Larut
dalam kesunyian yang mereka ciptakan sendiri. Seakan dunia ini hanya miliki
mereka berdua. Bagi mereka, kota ini bukan sekedar tempat tinggal, tapi tapi
simfoni kenangan yang tak henti-hentinya mengalun dalam dada—tempat tawa pernah
bergema di lorong-lorong sempitnya, tempat air mata jatuh diam-diam di bawah
kelap-kelip lampu jalan. Kota ini adalah lembaran puisi yang mereka tulis
bersama, bait demi bait, pada dinding waktu yang tak bisa dihapus. Setiap
sudutnya menyimpan bisikan tentang mimpi-mimpi yang mereka rawat diam-diam, dan
setiap tiupan anginnya membawa kembali harapan-harapan yang belum sempat mereka
ucapkan.
Di hadapan langit yang begitu
luas, Isa menggenggam tangan Bella lebih erat—seolah ingin menambatkan semua
yang tak bisa ia ungkapkan. Dan Bella, dengan mata yang menyimpan rembulan,
hanya tersenyum. Dalam diam, mereka tahu, kota ini tak lagi sebatas titik di
peta, tapi ruang tak terlihat tempat dua hati saling bertaut, menanti takdir
menuliskan akhir kisah mereka.
“Kau tahu bella...” Isa
bergumam, pandangannya masing mengarah ke langit, seolah naskah yang hendak ia
ucapkan sudah tertulis menjadi bintang-bintang yang indah.
Bella menoleh.
“Hanya momen-momen seperti ini,
yang benar-benar membuatku bahagia setelah kehilangan ibu lima tahun lalu.”
Bella tersenyum, lalu perlahan
menyandarkan kepalanya ke pundak Isa. Wangi tubuh Isa yang lembut, hangatnya
bahu itu—semuanya membuat waktu seakan berhenti berputar.
“Aku tahu, Isa...” Bella
berkata lirih, nyaris seperti desahan angin malam. “Aku tahu betapa dalam luka
itu.... Tapi aku juga tahu, kamu kuat. Karena kamu ada di sini. Bersamaku.”
Isa tersenyum kecil. “Kamu tahu
kenapa aku kuat, Bella?”
Bella menggeleng pelan, masih
bersandar. “Kenapa?”
“Karena kehadiranmu.” Isa menoleh
pelan, menatap ujung rambut Bella yang menari ditiup angin. “Kamu yang membuat
semua luka itu jadi pelajaran. Kamu yang mengubah kehilangan jadi tempat
pulang. Kamu, Bella... adalah satu-satunya alasan aku masih percaya pada
kehidupan.”
Bella memejamkan mata. Tangannya
menggenggam erat jemari Isa, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa yang tak
sempat ia ucapkan selama ini.
“Aku takut kehilanganmu,
Isa...” Bella berbisik. “Kadang aku membayangkan, jika suatu saat kamu pergi,
tanpa kabar, tanpa penjelasan, menghilang begitu saja.”
Isa menoleh cepat, dan dengan
lembut ia memegang dagu Bella, membuat gadis itu menatap langsung ke matanya.
“Lihat aku, Bella.”
Mata mereka bertemu. Di sana,
bintang-bintang serasa kalah terang dibandingkan cahaya kasih yang terpantul
dari tatapan Isa.
“Dengarkan aku baik-baik,” Isa menatapnya
serius, tapi nadanya tetap lembut, seperti pelukan yang membungkus dalam diam.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tidak esok, tidak lusa, tidak selamanya.
Selama nafasku masih ada, selama langkahku masih bisa kutapaki—aku akan selalu
berjalan di sampingmu.”
Bella menahan napas. Air
matanya mulai menggenang, tapi ia menahannya dengan seulas senyum rapuh.
“Dan jika... jika suatu hari
aku melupakan janji ini, atau pergi entah ke mana tanpa kabar, maka...” Isa
menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang mantap, “Biarkan kamu sendiri
yang menghukumku. Seberat apa pun hukuman itu, akan aku terima. Tanpa protes.
Dan setelah itu, aku akan kembali membuat janji yang sama dengan tekad bahwa
aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Bella
mendengus. “Itu berarti, bukan tidak mungkin kamu akan menginggalkanku, kan?”
Isa
menatap Bella. Astaga... wajah cemberut itu sangat menggemaskan. Ia terkekeh,
mempererat genggamannya.
“Aku
bukan orang yang mudah mengingkari janji, Bella. Jika aku sudah memutuskan,
maka aku akan mempertanggungjawabkannya seumur hidupku.”
“Bagaimana
jika semua yang tidak diinginkan terjadi? Misalnya ada perempuan lain yang
lebih menarik bagimu. Atau misalnya tiba-tiba kau diculik.”
Isa
menatap wajah Bella yang masih bersandar di pundaknya, lalu mengangkat tangan
gadis itu dan mengecup punggungnya dengan lembut—tanpa banyak gerak, tanpa
banyak suara, tapi cukup untuk menyampaikan ribuan makna.
“Aku tidak butuh yang lebih
menarik, Bella... Karena hatiku sudah penuh. Sudah terisi oleh satu orang yang
tak pernah sekalipun membuatku ingin mencari pengganti.”
Bella mendongak sedikit,
menatap Isa, seolah menanti kelanjutan dari kalimat itu.
“Kau tahu apa yang membuatmu
tak tergantikan?” Isa bertanya, menatap mata Bella dalam-dalam. “Bukan karena
senyummu yang manis, atau caramu menyebut namaku yang selalu terdengar istimewa.
Tapi karena caramu hadir... tanpa memaksa, tanpa pura-pura, dan tanpa syarat.”
Isa menarik napas, lalu
melanjutkan dengan nada yang lebih lirih namun mantap, “Cintamu bukan sekadar
perasaan, tapi rumah. Dan ketika seseorang telah menemukan rumahnya, untuk apa
ia mencari tempat lain?”
Bella diam. Ia tidak bisa
menjawab. Air matanya yang sempat tertahan kini jatuh perlahan, menelusuri pipinya
dalam hening yang hangat.
Isa menghapus air mata itu
dengan ibu jarinya, lembut sekali.
“Aku tidak bisa berjanji dunia
akan selalu baik pada kita. Tapi satu hal yang pasti… setiap badai yang datang,
setiap rintik hujan yang jatuh, akan kuhadapi bersamamu. Bukan sebagai
pelindung, tapi sebagai seseorang yang akan tetap berdiri di sisimu meski tubuh
ini roboh sekalipun.”
Bella menutup mata, mengangguk
kecil. Senyum tipis muncul di bibirnya, dibalut rasa haru dan cinta yang tak
bisa disembunyikan.
“Aku hanya ingin kamu tetap
seperti ini, Isa...” Bella berbisik, “Tetap jadi laki-laki yang membuatku
percaya, bahwa tidak semua hal indah harus berakhir.”
Isa tersenyum. “Dan aku hanya
ingin kamu tahu… kalau sampai hidup ini harus kujalani dua kali, maka aku akan
tetap memilih duduk di kursi ini. Di malam ini. Bersama kamu.”
Bella menunduk, wajahnya
memerah. “Kau selalu saja begitu, Isa... selalu membuatku merasa istimewa.”
Dan malam pun mengunci momen
itu dalam diam. Di bawah langit yang menjadi saksi, cinta mereka tak lagi
sekadar janji... tapi sudah berubah menjadi doa.
***
Paginya, di sebuah gedung media
terbesar di kota itu.
“Selamat pagi, ada berita
menarik apa hari ini?” Isa membuka pintu salah satu ruangan lantai 3. Newsroom
Di tengah ruangan itu, terdapat
meja berjajar panjang tanpa sekat. Beberapa orang duduk di sana, berdiskusi
sambil memegang secangkir kopi yang masih panas. Layar besar di dinding
menampilkan berita real-time dari media luar. Di sampingnya, sebuah papan tulis
masih kotor dengan catatan liputan yang sebenarnya sudah tuntas minggu lalu.
Juga tidak terlewat printer besar, faksimile yang sudah terlihat usang, dan rak
dokumen narasi cadangan. Dan ada ruangan kecil kedap suara untuk wawancara
daring atau take VO (voice over).
“Hey, hey, hey. Lihat siapa
yang datang. Seorang jurnalis terbaik di perusahaan.” Ali yang tadinya sedang
asyik mengobrol, berdiri. Menghampiri Isa sambil tertawa. Lalu mengulurkan
tangannya.
Isa tersenyum. Menerima jabatan
tangan Ali. Seperti biasa, orang ini memiliki tangan yang kokoh.
“Sepertinya suasana di sini
masih cukup santai.” Isa melepas tangannya, berjalan menuju salah satu meja
yang disiapkan khusus untuknya, “Tapi entah nanti siang.”
Ali tertawa, masih berdiri di
tempatnya. “Kau mengatakan itu seolah baru saja melihat pemandangan di sini.
Setiap hari memang seperti ini, bukan?”
Isa hanya menyeringai, tidak
menjawab.
Ali berjalan menghampiri rak
yang sesak dengan dokumen atau naskah berita yang akan di terbitkan. Dia
mencari-cari sebentar, membuka dokumen demi dokumen, hingga sampai pada salah
satu dokumen yang akan segera diterbitkan.
Ali menyeringai sebentar, lalu
segera menghampiri Isa. Membuka dokumen itu di depannya.
“Lihat! Pacarmu menjadi sorotan
oleh banyak media berkat prestasinya yang gemilang di lomba Matematika yang
diadakan oleh Pusat Prestasi Nasional. Dan kau tahu? Performa dia di lomba itu
diluar ekspetasi para juri.”
Isa hanya menatapnya sekilas.
Lalu segera menyalakan komputer di depannya. Suara desingan pelan terdengar.
“Aku sudah tahu itu jauh
sebelum kalian mendapatkan beritanya, Ali.”
“Tapi mungkin ada yang kau
lewatkan.” Ali menatap Isa, sedikit tersenyum.
“Maksudnya?”
Ali menghela napas pelan. “Salah satu juri di
lomba itu adalah Professor Said Baskara, pemimpin divisi Vireya Neurolink di
perusahaan teknologi Vireya Corporation. Melihat kemampuan Bella yang sangat
baik pada bidang matematika, bahkan sampai melampaui ekspetasi, tidak menutup
kemungkinan bahwa dia akan tertarik merekrutnya di perusahaan itu. Kau pasti
tahu bahwa matematika memainkan peran vital hampir pada setiap aspeknya.
Kehadiran Bella tentu saja akan memperkuat amunisi mereka dalam mengembangkan
teknologi mereka.”
Isa terdiam sebentar.
Menyandarkan punggungnya di kursi sambil melipat tangannya. “Ini mungkin saja terjadi.
Jelas semua perusahaan pasti akan memilih yang terbaik di bidangnya. Tapi ini
baru dugaan saja, kan?”
“Sayangnya... ini bukan sebuah
dugaan.” Ali menarik kursi di dekatnya, sambil tangannya meraih ponsel di saku
celana, “Belum sepuluh menit berita ini sampai. Salah satu wartawan baru saja
mewawancarai Professor Said di depan gedung Vireya Corporation.”
Ali menyerahkan ponselnya pada
Isa. Memperlihatkan video wawancara singkat mengenai lomba nasional yang baru
saja selesai, dan pendapatnya mengenai kemampuan Bella yang berhasil menarik
perhatian para juri.
“Sejujurnya, saya jarang dibuat terdiam dalam sesi
presentasi, apalagi oleh peserta seusia Bella. Tapi malam itu... saya dan para
juri lainnya benar-benar terpukau. Ia tidak hanya menyelesaikan soal dengan
akurasi tinggi, tapi juga menunjukkan cara berpikir yang sangat matang dan
elegan. Logika matematisnya terstruktur, dan lebih dari itu—ia memiliki insting
analitis yang tidak bisa diajarkan, hanya dimiliki oleh sedikit orang terpilih.
“Dalam dunia teknologi yang sedang berkembang seperti
sekarang, terutama di bidang neurolink, kami membutuhkan pemikiran yang tidak
hanya cerdas, tapi juga berani mengambil pendekatan yang tidak biasa. Bella
menunjukkan potensi itu secara alami. Saya tidak bisa memberi pernyataan pasti
sekarang, tapi saya pribadi akan sangat mempertimbangkan untuk mengajaknya
bergabung bersama tim kami di Vireya Corporation.”
Isa meletakkan ponsel itu
perlahan. Menghela napas panjang.
“Aku tahu kau sedang
mengumpulkan banyak informasi untuk mengungkap semua kebusukan dari Vireya
Corporation.” Ali meraih ponselnya, menatap Isa lamat, “Tapi apa urusanmu?
Ayolah, itu malah membuatmu dalam bahaya. Perusahaan sebesar itu tidak mungkin
tidak memiliki backingan. Entah itu organisasi kriminal atau bahkan aparat yang
mereka suap.”
Isa tersenyum tipis, lalu
menyandarkan tubuhnya lebih santai di kursi. Ia melirik secangkir kopi milik
Ali yang tidak lagi mengepulkan asap. “Kopimu dingin, Ali. Kebanyakan drama.”
Ali mendengus, “Aku serius. Kau
ini terlalu nekat. Dan sekarang, Bella terlibat secara tidak langsung.”
“Bukan Bella yang terlibat,”
Isa membalas tenang. “Itu hanya kemungkinan. Lagipula, Vireya belum tentu
benar-benar merekrut dia. Bisa saja itu cuma basa-basi wawancara.”
Ali mengangkat alis. “Kau lupa,
ini Vireya. Kalau mereka sudah melirik seseorang, biasanya bukan cuma lirikan
kosong. Mereka seperti magnet besar yang akan menarik apa pun yang menurut
mereka berguna.”
Isa tertawa pelan. “Magnet atau
tidak, Bella punya pilihannya sendiri. Dan aku percaya dia cukup pintar untuk
menimbang semuanya.”
Ali memiringkan kepala, menatap
Isa dengan ekspresi menggoda. “Tapi tetap saja... pacarmu jadi target
perusahaan teknologi terbesar di negeri ini. Dan kamu, jurnalis keras kepala
yang sudah lama ngoprek sisi gelap perusahaan yang sama. Kau yakin hubungan
kalian nggak bakal ikut panas?”
Isa menatap layar komputernya
yang mulai menyala, lalu menjawab sambil mengetik pelan, “Kalau sampai semuanya
jadi panas, aku harap cuma hubungan antar data. Bukan antar manusia.”
Ali terbahak. “Huh, kau masih
bisa bercanda di situasi seperti ini. Tapi serius, bro... hati-hati, ya? Jangan
sampai kamu kebakar sebelum sempat menyiram apinya.”
Isa mengangguk pelan,
tatapannya kini serius. “Tenang saja. Aku tidak akan main api kalau nggak tahu
arah angin. Tapi... jika kemungkinan buruk itu terjadi, Aku harap kau akan
meneruskan pekerjaanku.”
Lengang.
Ali memandangi sahabatnya itu
sejenak, lalu berdiri. “Yasudah. Aku mau cari kopi baru. Yang ini udah lebih
pahit dari kenyataan.”
Isa tertawa. “Jangan salah.
Kadang kenyataan lebih pahit dari kopi, lho.”
Ali melangkah pergi, tapi
sempat berbalik sebentar. “Oh, dan satu lagi... kalau Bella beneran masuk ke
Vireya, jangan salahkan aku kalau aku menjadi salah satu fans terberat dia.”
Isa hanya mengangkat bahu,
senyum masih menggantung di wajahnya. “Siapa pun boleh jadi fans-nya. Tapi
ingat... aku yang punya kontrak eksklusif.”
Ali tertawa keras sambil
berjalan ke pantry. Sementara itu, Isa kembali menatap layar komputer—dan di
balik senyum kecilnya, matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam, rasa
khawatir yang belum sempat ia ucapkan.
Komentar
Posting Komentar