Professor Said tidak membual
dalam sesi wawancaranya.
Sepuluh menit setelah Ali
meninggalkan ruangan, ponsel milik Isa berdering. Isa segera merogoh saku celananya,
menarik ponsel itu. Isa tersenyum saat melihat nama yang ada di layar. Bella.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab panggilan itu.
“Isa!!” Suara Bella terdengar
kencang di seberang sana, nyaris menggetarkan telinga Isa.
“Ada apa, Bella?” Isa berdiri
perlahan, menjauh dari keramaian yang mulai ramai menjelang siang, melangkah ke
sudut yang lebih tenang di dekat rak koran.
“Aku... aku dihubungi mereka!
Barusan!” Bella menjawab setengah terengah. “Vireya Corporation, Isa. Mereka
mau aku gabung! Bukan magang, bukan riset... tapi langsung masuk ke tim utama
mereka! Tim pengembangan teknologi neurolink!”
Isa membeku sejenak. Matanya
menyipit, tapi bibirnya mencoba tetap tersenyum. Ia menelan ludah perlahan.
“Kamu yakin itu bukan cuma
ucapan manis biasa dari mereka?” Isa mengatur nada bicaranya serileks mungkin.
“Kamu kan masih mahasiswa semester akhir, Bella. Ada banyak hal yang harus kamu
selesaikan dulu.”
“Aku tahu,” Bella menjawab
cepat. “Tapi mereka bilang aku bisa mengatur waktu. Bahkan katanya aku bisa
menyusun skripsi dari proyek riset yang akan aku jalani di sana. Mereka tahu
potensiku, Isa. Mereka melihat aku.”
Isa memejamkan mata sejenak.
Vireya Corporation... akhirnya mengulurkan tangan mereka ke orang yang paling
tidak boleh mereka sentuh. Ia menggenggam ponsel lebih erat, seakan ingin
menghentikan dunia dari bergerak lebih jauh.
“Bella, kamu dengar aku ya,”
Isa menarik napas panjang. “Aku nggak bilang kamu nggak hebat. Kamu luar biasa.
Tapi kamu belum tahu apa-apa soal Vireya Corporation. Perusahaan itu terlalu besar,
terlalu... berisiko. Kamu pikir mereka tertarik padamu karena idealismemu?
Tidak. Mereka tertarik karena mereka bisa memanfaatkanmu.”
“Tapi, Isa—”
“Dengarkan aku dulu.” Suara Isa
sedikit meninggi, lalu melembut. “Aku cuma ingin kamu selesaikan kuliahmu dulu.
Fokus. Setelah itu, kita bisa bicarakan soal masa depanmu... yang benar-benar
milikmu, bukan milik mereka.”
Di seberang telepon, Bella
terdiam. Nafasnya masih terdengar, ragu.
Isa menghela napas, jantungnya
berdegup kencang. Pikirannya sudah melayang jauh. Jika Bella masuk ke dalam,
maka misinya akan jauh lebih rumit. Vireya Corporation bukan sekadar perusahaan
teknologi—itu adalah labirin hitam yang menyembunyikan dosa-dosa masa lalu. Dan
Isa... satu-satunya alasan dia menjadi jurnalis investigasi, adalah untuk
menguak semua kebusukan perusahaan-perusahaan besar di negri ini, menghancurkan
nama besar itu dengan kebenaran. Idealismenya terlalu tinggi.
Tapi Bella tidak boleh jadi
korban.
“Kenapa kamu terlalu sensitif
jika aku membicarakan soal Vireya Corporation?” Akhirnya pertanyaan itu muncul.
Suara Bella pelan, tenang. Ia tidak marah sama sekali pada Isa, karena memang
Bella sudah percaya bahwa Isa mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.
Isa diam sejenak. Merangkai
kata-kata yang pas untuk ia ucapkan pada kekasihnya itu. Cepat atau lambat,
Bella harus tahu. Agar tangan-tangan licik itu dapat dihindari secara mandiri
oleh Bella.
“Semuanya tidak sesederhana
yang kamu bayangkan, Bella...” Isa mencoba mengatur intonasinya. Momen seperti
ini selalu saja membuat dirinya emosional.
“Maksudnya?” Bella bertanya,
mendesak.
Isa menggeram. Kenapa di saat
seperti ini ia malah tidak bisa menemukan kata yang cocok.
Di belakang Isa, diam-diam
seseorang mendekatinya. Lalu menepuk bahunya.
“Hey!”
Isa sedikit terperanjat. Tanpa
sengaja menekan tombol matikan di layar ponselnya. Seketika panggilan terputus.
Isa menoleh cepat ke belakang.
Ternyata Kathrina. Salah satu rekan kerjanya selain Ali.
“Ya ampun, Kathrina!” Isa sedikit kesal. “Kamu
nggak lihat aku sedang dalam panggilan?”
Kathrina menaikkan alis, lalu
terkekeh pelan. “Ups... maaf. Tapi kamu juga berdiri di pojokan kayak agen
rahasia, mana aku tahu kamu lagi di tengah sandiwara drama percintaan.”
Isa mendengus, memasukkan
ponselnya ke saku.
Kathrina mengangguk, tersenyum
tipis. Seperti mengetahui masalah yang sedang dialami Isa hanya dari raut
wajahnya. “Iya, iya. Maaf. Tapi... kamu oke, kan?”
Isa mengangguk seadanya. “Tentu
saja aku... oke.”
Kathrina menatapnya sebentar,
seakan membaca lebih dari sekadar ekspresi. Tapi kemudian ia mengganti topik,
mencoba mengalihkan suasana.
“Ngomong-ngomong, akhir-akhir
ini kamu jarang banget kelihatan di kantor. Sering ngilang. Bahkan pimpinan
redaksi sering bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang kamu kerjakan.”
Isa melirik ke ruangan pimpinan
redaksi, lalu kembali ke Kathrina. “Aku kerja, Kath. Di luar. Banyak hal yang
harus digali.”
“Dan kebetulan itu semua
mendekatkan kamu dari Vireya, ya?” Kathrina bertanya sambil menyilangkan
tangan, senyumnya mengambang. “Ali belakangan ini juga sering buka file lama
tentang mereka. Diam-diam dia kayaknya tertarik.”
Isa mengangkat alis. “Ali?”
Kathrina mengangguk mantap.
“Iya. Kemarin sore aku lihat dia lagi selancar di arsip berita lama soal
Vireya. Bahkan dia minta akses ke footage liputan tiga tahun lalu yang sempat
dibekukan. Kamu tahu, yang soal kecelakaan di pabrik eksperimen mereka.”
Isa menyeringai, menatap lantai
sejenak sebelum menatap kembali ke arah Kathrina.
“Lucu juga. Padahal Ali itu
selalu bilang, ‘nggak mau repot ngurus perusahaan besar karena terlalu
berbahaya.’”
Kathrina terkekeh. “Tapi dasar
si Ali, orangnya memang mudah ditebak. Aku yakin dia cuma pura-pura cuek biar
kelihatan cool. Tapi mungkin sekarang dia benar-benar mencium sesuatu.”
Isa mengangguk pelan. Ali
mencium sesuatu, tapi dia belum tahu baunya sekuat apa. Dan Bella... hampir
saja masuk ke dalamnya.
“Kamu tahu, Kath,” Isa menatap
jauh ke luar jendela, “Beberapa kebenaran memang menarik... tapi begitu kau
menyentuhnya, kamu harus siap terbakar.”
Kathrina menatap Isa dalam
diam. Senyumnya pudar pelan-pelan, digantikan rasa penasaran. Tapi dia tidak
bertanya lebih jauh. Ia tahu, jika Isa sudah mulai bicara seperti itu, berarti
ia sedang berada di tengah badai yang belum siap dibagikan.
“Baiklah... sekarang aku
mengerti masalahmu.” Kathrina berbalik. “Tapi kalau kamu butuh backup, kamu
tahu di mana harus cari aku.”
Isa mengangguk. “Terima kasih.”
Setelah Kathrina pergi, Isa
menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya dari saku. Ia menatap layar
ponsel itu, menimbang untuk menelepon kembali Bella... tapi urung.
Isa
hanya meninggalkan pesan.
“Nanti malam, kita bicarakan semuanya di
taman kota favorit kita.”
Nanti malam. pikirnya. Nanti
malam, dia harus bicara jujur padanya. Tentang Vireya. Tentang semua ini.
Sebelum semuanya terlambat.
***
Pukul 19.30 malam.
Langit di luar sudah gelap. Bintang
mulai bermunculan menghiasi kegelapan seperti malam-malam sebelumnya. Dari
jendela lantai 3 ruangan Newsroom,
gedung-gedung besar semakin terlihat gagah dengan lampu-lampu yang menyala di
setiap lantainya.
Aktivitas di kantor masih
padat. Sejak siang, berita-berita hangat banyak sekali bermunculan, para
wartawan ke sana-kemari, menuju satu TKP ke TKP lainnya. Sementara para editor,
penulis, reporter, dan lainnya sibuk mengetik naskah, menyunting footage,
menelpon narasumber, atau bahkan berdebat kecil soal judul yang lebih
“menjual”—kantor media itu hidup dalam ritmenya sendiri, riuh dan dinamis,
seperti orkestra yang tak pernah benar-benar diam.
Dari ruang editor di sisi
barat, terdengar suara tuts keyboard dipukul cepat, berpadu dengan dengungan
mesin printer yang memuntahkan hasil transkrip wawancara. Di ruang tengah,
beberapa reporter senior berdiskusi panas sambil menunjuk layar laptop
masing-masing, membandingkan potongan video dari TKP dengan kronologi yang
ditulis ulang, seperti kasus pembunuhan berantai di lorong Verona, kasus
kematian bos gembong kriminal oleh seorang pembunuh bayaran, sampai ke berita
internasional seperti kasus pembunuh gila dengan bunga mawar di London. Sementara
itu, dari studio mini di sudut ruangan, seorang penyiar sedang melakukan take
ulang pembacaan berita untuk segmen tengah malam, suara lantangnya teredam
dinding akustik.
Tumpukan kertas, botol kopi
yang hampir habis, papan timeline digital yang terus berubah warna, dan layar
besar yang memantau breaking news internasional menambah semrawut yang
terorganisir. Jam kerja tampak tidak relevan di tempat seperti ini—selama
berita belum naik tayang, tidak ada yang benar-benar bisa pulang.
Namun, di tengah segala
hiruk-pikuk itu, Isa duduk sendirian di sudut ruangan, menghadap tiga layar
monitor yang penuh dengan grafik data, string kode, dan dokumen rahasia yang ia
buka dengan hati-hati. Ia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang
berada di jantung kesibukan kantor berita.
Posisinya di kantor tidak
lazim. Isa bukan hanya seorang jurnalis investigasi—ia adalah otak dari
misi-misi rahasia yang tidak diketahui banyak pihak. Bukan sekadar menulis atau
meliput, ia melakukan tindakan yang lebih berbahaya, mengolah data bocoran dari
whistleblower, menyusup ke sistem keuangan perusahaan gelap, dan merancang
laporan investigasi yang bisa menjatuhkan konglomerat dalam satu tayangan.
Sore tadi, ia menghilang selama
dua jam tanpa sepengetahuan rekan-rekannya. Saat wartawan lain sibuk di TKP,
Isa justru bertemu dengan informan dari dalam Vireya Corporation, menyamar
sebagai kurir makanan di sebuah gedung parkir bawah tanah. Dari sana, ia
mendapatkan salinan file keuangan internal yang memperkuat kecurigaannya selama
ini.
Dan kini, saat jarum jam nyaris
menyentuh pukul delapan malam, Isa menyusun potongan-potongan itu. Namanya
tidak pernah muncul di kredit liputan mana pun. Tapi setiap berita besar
tentang korupsi, manipulasi saham, atau kejahatan perusahaan multinasional yang
tayang dengan label “Eksklusif”—Isa selalu ada di belakangnya.
Ia mengetik cepat, sesekali
mengerutkan kening.
Sesekali pikirannya terdistraksi
tentang Bella dan Professor Said Baskara. Apapun yang terjadi, Bella tidak
boleh bergabung. Bukan karena Bella tak mampu. Tapi karena ia tahu, begitu
Bella masuk ke sana, gadis itu akan terjebak dalam jaringan busuk yang selama
ini coba ia bongkar. Vireya bukan sekadar korporasi. Ia monster dengan banyak
kepala. Dan Isa tidak akan membiarkan Bella jadi salah satu korbannya.
Di luar, riuh kantor makin
keras. Tapi Isa tenggelam dalam pikirannya sendiri—berpacu melawan waktu,
sebelum semuanya semakin rumit.
Ting!
Ponsel Isa berdenting pelan, pertanda
pesan masuk. Isa segera meraihnya. Di layar, pesan dari Bella muncul.
Bella: Aku sudah di taman kota. Kamu di mana?
Isa segera membalas cepat.
Isa: Dalam perjalanan, sebentar lagi sampai.
Tanpa menunggu lama lagi, Isa
segera mematikan komputer, mencabut flashdisk
yang berisi dokumen penting sebagai amunisinya menjatuhkan Vireya Corporation.
Komputer mendesing pelan sebelum benar-benar mati. Lima menit, setelah
merapikan semuanya, ia segera beranjak dari tempat duduknya, bergegas menuju
pintu keluar. Tanpa menoleh pada teman-temannya, tanpa kata pamit sedikit pun.
Isa menjejakkan kakinya keluar
dari ruang Newsroom dengan langkah
cepat, hampir tak terdengar. Pintu kaca menutup kembali di belakangnya dengan
suara klik lembut, seolah menyegel kembali dunia yang penuh rahasia itu. Ia
menyelipkan flashdisk kecil ke dalam saku dalam jaket kulitnya—posisinya selalu
di sebelah kiri dada, tempat paling dekat dengan jantung.
Lorong lantai tiga masih ramai,
beberapa jurnalis lalu-lalang sambil membawa map, kamera, atau hanya sekedar
secangkir kopi panas. Wajah mereka tampak letih, tapi mata mereka masih
menyala—sebuah semangat yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup untuk
berita.
“Isa!” Suara seseorang
memanggil. Suara itu berasal dari Meira, reporter hukum yang sedang berjalan ke
arah lift sambil menggigit ujung pulpen.
Isa hanya melirik sekilas dan
tersenyum singkat. “Nanti ya, Mei.”
“Tunggu, kamu belum—”
Lift terbuka. Isa langsung
masuk sebelum Meira bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak berniat menjelaskan
apa-apa malam ini.
Pintu lift menutup perlahan. Ia
menatap angka-angka digital yang menurun—3... 2... 1—sembari mengatur napasnya
yang sedikit memburu. Tangannya mengusap rambutnya ke belakang, gugup tanpa
alasan. Di antara suara lift yang mendesing pelan, pikirannya kembali ke pesan
Bella.
Aku sudah di taman kota.
Begitu pintu lift terbuka di
lobi utama, Isa langsung melangkah cepat ke luar. Bau tinta cetak, debu kertas,
dan kopi sisa sore masih menggantung di udara. Beberapa karyawan shift malam
duduk di ruang lounge, berbincang sambil menatap layar televisi yang
menampilkan breaking news tentang ledakan pabrik kimia di luar kota.
“Isa!”
Kali ini suara itu berasal dari
Pak Damar, kepala biro foto, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis
sambil memeriksa hasil jepretan di kameranya. “Lihat hasil jepretan anak-anak
siang tadi. Gila banget, satu frame dapet darah dan polisi bersamaan. Bisa buat
page satu!”
Isa melambat sedikit, tapi
tidak berhenti. “Keren, Pak. Kirim aja ke Bu Risa. Saya buru-buru.”
Damar mengangguk, meski
wajahnya tampak ingin menunjukkan lebih banyak lagi.
Begitu melewati pintu kaca
besar kantor, Isa langsung dihantam angin malam yang sejuk, membawa serta aroma
aspal basah dan debu kota. Udara terasa sedikit lebih lengang dari siang hari,
tapi lampu-lampu jalan tetap menyala cerah, menyinari trotoar dan kendaraan
yang lalu-lalang.
Isa mempercepat langkahnya
menuju Kawasaki Ninja H2R yang ia parkir di sisi kantor. Ia memasang helm
cepat, lalu menyalakan mesin. Suara knalpotnya mengaum keras, cukup untuk
menggetarkan dada. Ia tidak ingin membuang satu menit pun lagi.
Sebelum menarik gas, ia menatap
lampu kota dari kejauhan—pijar-pijar yang tampak seperti kilau bintang, tapi
palsu, buatan manusia. Lalu ia menarik gas, membelah malam, menuju taman kota
tempat Bella menunggunya.
Namun, baru beberapa kilometer
dari kantor, jalanan mendadak macet.
Semua kendaraan terhenti.
Klakson bersahutan. Tapi anehnya, tak ada tanda-tanda kecelakaan atau pekerjaan
jalan di depan. Polisi pun tak terlihat. Hanya antrean panjang kendaraan yang
tak bergerak.
Isa melirik jam di speedometer
motornya. 20.10. Instingnya sebagai penyelidik bekerja. Ada sesuatu yang tidak
beres.
Ia menyalakan sinyal belok
kiri, menarik kemudi, dan berbelok ke sebuah jalanan kecil yang hanya muat
untuk satu mobil. Jalas pintas. Tidak ada pilihan lain, karena Isa harus
bergegas, ia tidak mau membuat Bella menunggu lama karenanya.
Ia menurunkan kecepatan
motornya. Jalanan sempit itu diapit oleh dinding-dinding tua gedung industri,
dengan beberapa lampu jalan yang redup dan berkelap-kelip. Tak ada pejalan
kaki, tak ada suara kendaraan lain. Bahkan, suara angin pun nyaris tak
terdengar.
"Padahal belum larut
malam, tapi jalanan sepi sekali..."
Perlahan, rasa tak nyaman
merayap masuk ke dalam dirinya. Isa mempercepat laju motor. Suara mesin H2R
meraung nyaring, menggema di antara lorong sempit dan tembok-tembok beton.
Saat ia hendak berbelok ke
jalan berikutnya, lampu motornya menyorot sesuatu di kejauhan.
Sebuah mobil hitam mewah parkir
di tengah jalan. Modelnya langka, jendela kaca gelap, plat nomor tak terlihat.
Di depan mobil itu, berdiri
seorang pria.
Tubuhnya tegap. Ia mengenakan
jas rapi berwarna hitam dan kemeja putih bersih. Kacamata hitam masih melekat
di wajahnya meski malam begitu gelap. Tangan kirinya menyelip di saku, dan
tangan kanan menggenggam korek untuk menyalakan rokok yang tersangkut di
mulutnya.
Isa memperlambat laju motor. Ia
mengenali pria itu.
"Lucien... Baskara." Jantungnya
berdegup keras.
Nama itu sudah lama ada dalam
daftar orang paling berbahaya yang ia telusuri selama ini. Bos dari organisasi
kriminal terbesar di negeri ini, yang bersembunyi di balik kilau kemewahan dan
formalitas bisnis. Putra dari Professor Said Baskara, ilmuwan sekaligus ketua
divisi Vireya Neurolink di perusahaan Vireya Corporation.
Isa menurunkan satu kakinya ke
aspal. Tangannya menggenggam kemudi, tubuhnya tegang. Ia tahu cepat atau lambat
ini akan terjadi. Misinya menghancurkan Vireya sepertinya sudah tercium, dan Professor
Said segera memerintahkan anaknya untuk menyingkirkan dirinya.
Lucien mengangkat tangannya
sedikit, memberi isyarat seperti menyapa teman lama.
"Malam yang indah untuk
orang yang suka menggali terlalu dalam." Lucien berkata dengan nada
santai, meski matanya tajam dan penuh ancaman.
Isa merogoh saku jaketnya. Di
sana ada alat pelacak kecil, sebagai pertanda bahaya untuk teman dekatnya di
kantor. Ali. Tapi sebelum ia sempat mengaktifkannya, suara langkah kaki
terdengar dari belakang.
Lima... tujuh... dua belas
orang... Belasan pria bertubuh besar muncul dari balik gang dan bayangan
tembok.
Mereka semua mengenakan pakaian
serba gelap. Wajah mereka tertutup masker, tapi tangan-tangan mereka memegang
pentungan logam, pisau, bahkan senjata api kecil.
Isa dikepung.
Jalan sempit itu kini menjadi
perangkap sempurna.
"Dasar bajingan...." Isa
mendengus, menggertakkan giginya sambil menyalakan kembali mesin motornya,
bersiap untuk menabrak siapa pun yang berdiri di jalannya.
Komentar
Posting Komentar