Preview Isa & Bella part 2

 

Professor Said tidak membual dalam sesi wawancaranya.

Sepuluh menit setelah Ali meninggalkan ruangan, ponsel milik Isa berdering. Isa segera merogoh saku celananya, menarik ponsel itu. Isa tersenyum saat melihat nama yang ada di layar. Bella. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab panggilan itu.

“Isa!!” Suara Bella terdengar kencang di seberang sana, nyaris menggetarkan telinga Isa.

“Ada apa, Bella?” Isa berdiri perlahan, menjauh dari keramaian yang mulai ramai menjelang siang, melangkah ke sudut yang lebih tenang di dekat rak koran.

“Aku... aku dihubungi mereka! Barusan!” Bella menjawab setengah terengah. “Vireya Corporation, Isa. Mereka mau aku gabung! Bukan magang, bukan riset... tapi langsung masuk ke tim utama mereka! Tim pengembangan teknologi neurolink!”

Isa membeku sejenak. Matanya menyipit, tapi bibirnya mencoba tetap tersenyum. Ia menelan ludah perlahan.

“Kamu yakin itu bukan cuma ucapan manis biasa dari mereka?” Isa mengatur nada bicaranya serileks mungkin. “Kamu kan masih mahasiswa semester akhir, Bella. Ada banyak hal yang harus kamu selesaikan dulu.”

“Aku tahu,” Bella menjawab cepat. “Tapi mereka bilang aku bisa mengatur waktu. Bahkan katanya aku bisa menyusun skripsi dari proyek riset yang akan aku jalani di sana. Mereka tahu potensiku, Isa. Mereka melihat aku.”

Isa memejamkan mata sejenak. Vireya Corporation... akhirnya mengulurkan tangan mereka ke orang yang paling tidak boleh mereka sentuh. Ia menggenggam ponsel lebih erat, seakan ingin menghentikan dunia dari bergerak lebih jauh.

“Bella, kamu dengar aku ya,” Isa menarik napas panjang. “Aku nggak bilang kamu nggak hebat. Kamu luar biasa. Tapi kamu belum tahu apa-apa soal Vireya Corporation. Perusahaan itu terlalu besar, terlalu... berisiko. Kamu pikir mereka tertarik padamu karena idealismemu? Tidak. Mereka tertarik karena mereka bisa memanfaatkanmu.”

“Tapi, Isa—”

“Dengarkan aku dulu.” Suara Isa sedikit meninggi, lalu melembut. “Aku cuma ingin kamu selesaikan kuliahmu dulu. Fokus. Setelah itu, kita bisa bicarakan soal masa depanmu... yang benar-benar milikmu, bukan milik mereka.”

Di seberang telepon, Bella terdiam. Nafasnya masih terdengar, ragu.

Isa menghela napas, jantungnya berdegup kencang. Pikirannya sudah melayang jauh. Jika Bella masuk ke dalam, maka misinya akan jauh lebih rumit. Vireya Corporation bukan sekadar perusahaan teknologi—itu adalah labirin hitam yang menyembunyikan dosa-dosa masa lalu. Dan Isa... satu-satunya alasan dia menjadi jurnalis investigasi, adalah untuk menguak semua kebusukan perusahaan-perusahaan besar di negri ini, menghancurkan nama besar itu dengan kebenaran. Idealismenya terlalu tinggi.

Tapi Bella tidak boleh jadi korban.

“Kenapa kamu terlalu sensitif jika aku membicarakan soal Vireya Corporation?” Akhirnya pertanyaan itu muncul. Suara Bella pelan, tenang. Ia tidak marah sama sekali pada Isa, karena memang Bella sudah percaya bahwa Isa mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Isa diam sejenak. Merangkai kata-kata yang pas untuk ia ucapkan pada kekasihnya itu. Cepat atau lambat, Bella harus tahu. Agar tangan-tangan licik itu dapat dihindari secara mandiri oleh Bella.

“Semuanya tidak sesederhana yang kamu bayangkan, Bella...” Isa mencoba mengatur intonasinya. Momen seperti ini selalu saja membuat dirinya emosional.

“Maksudnya?” Bella bertanya, mendesak.

Isa menggeram. Kenapa di saat seperti ini ia malah tidak bisa menemukan kata yang cocok.

Di belakang Isa, diam-diam seseorang mendekatinya. Lalu menepuk bahunya.

“Hey!”

Isa sedikit terperanjat. Tanpa sengaja menekan tombol matikan di layar ponselnya. Seketika panggilan terputus.

Isa menoleh cepat ke belakang. Ternyata Kathrina. Salah satu rekan kerjanya selain Ali.

 “Ya ampun, Kathrina!” Isa sedikit kesal. “Kamu nggak lihat aku sedang dalam panggilan?”

Kathrina menaikkan alis, lalu terkekeh pelan. “Ups... maaf. Tapi kamu juga berdiri di pojokan kayak agen rahasia, mana aku tahu kamu lagi di tengah sandiwara drama percintaan.”

Isa mendengus, memasukkan ponselnya ke saku.

Kathrina mengangguk, tersenyum tipis. Seperti mengetahui masalah yang sedang dialami Isa hanya dari raut wajahnya. “Iya, iya. Maaf. Tapi... kamu oke, kan?”

Isa mengangguk seadanya. “Tentu saja aku... oke.”

Kathrina menatapnya sebentar, seakan membaca lebih dari sekadar ekspresi. Tapi kemudian ia mengganti topik, mencoba mengalihkan suasana.

“Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kamu jarang banget kelihatan di kantor. Sering ngilang. Bahkan pimpinan redaksi sering bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang kamu kerjakan.”

Isa melirik ke ruangan pimpinan redaksi, lalu kembali ke Kathrina. “Aku kerja, Kath. Di luar. Banyak hal yang harus digali.”

“Dan kebetulan itu semua mendekatkan kamu dari Vireya, ya?” Kathrina bertanya sambil menyilangkan tangan, senyumnya mengambang. “Ali belakangan ini juga sering buka file lama tentang mereka. Diam-diam dia kayaknya tertarik.”

Isa mengangkat alis. “Ali?”

Kathrina mengangguk mantap. “Iya. Kemarin sore aku lihat dia lagi selancar di arsip berita lama soal Vireya. Bahkan dia minta akses ke footage liputan tiga tahun lalu yang sempat dibekukan. Kamu tahu, yang soal kecelakaan di pabrik eksperimen mereka.”

Isa menyeringai, menatap lantai sejenak sebelum menatap kembali ke arah Kathrina.

“Lucu juga. Padahal Ali itu selalu bilang, ‘nggak mau repot ngurus perusahaan besar karena terlalu berbahaya.’”

Kathrina terkekeh. “Tapi dasar si Ali, orangnya memang mudah ditebak. Aku yakin dia cuma pura-pura cuek biar kelihatan cool. Tapi mungkin sekarang dia benar-benar mencium sesuatu.”

Isa mengangguk pelan. Ali mencium sesuatu, tapi dia belum tahu baunya sekuat apa. Dan Bella... hampir saja masuk ke dalamnya.

“Kamu tahu, Kath,” Isa menatap jauh ke luar jendela, “Beberapa kebenaran memang menarik... tapi begitu kau menyentuhnya, kamu harus siap terbakar.”

Kathrina menatap Isa dalam diam. Senyumnya pudar pelan-pelan, digantikan rasa penasaran. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu, jika Isa sudah mulai bicara seperti itu, berarti ia sedang berada di tengah badai yang belum siap dibagikan.

“Baiklah... sekarang aku mengerti masalahmu.” Kathrina berbalik. “Tapi kalau kamu butuh backup, kamu tahu di mana harus cari aku.”

Isa mengangguk. “Terima kasih.”

Setelah Kathrina pergi, Isa menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya dari saku. Ia menatap layar ponsel itu, menimbang untuk menelepon kembali Bella... tapi urung.

            Isa hanya meninggalkan pesan.

            “Nanti malam, kita bicarakan semuanya di taman kota favorit kita.”

Nanti malam. pikirnya. Nanti malam, dia harus bicara jujur padanya. Tentang Vireya. Tentang semua ini. Sebelum semuanya terlambat.

 

***

 

Pukul 19.30 malam.

Langit di luar sudah gelap. Bintang mulai bermunculan menghiasi kegelapan seperti malam-malam sebelumnya. Dari jendela lantai 3 ruangan Newsroom, gedung-gedung besar semakin terlihat gagah dengan lampu-lampu yang menyala di setiap lantainya.

Aktivitas di kantor masih padat. Sejak siang, berita-berita hangat banyak sekali bermunculan, para wartawan ke sana-kemari, menuju satu TKP ke TKP lainnya. Sementara para editor, penulis, reporter, dan lainnya sibuk mengetik naskah, menyunting footage, menelpon narasumber, atau bahkan berdebat kecil soal judul yang lebih “menjual”—kantor media itu hidup dalam ritmenya sendiri, riuh dan dinamis, seperti orkestra yang tak pernah benar-benar diam.

Dari ruang editor di sisi barat, terdengar suara tuts keyboard dipukul cepat, berpadu dengan dengungan mesin printer yang memuntahkan hasil transkrip wawancara. Di ruang tengah, beberapa reporter senior berdiskusi panas sambil menunjuk layar laptop masing-masing, membandingkan potongan video dari TKP dengan kronologi yang ditulis ulang, seperti kasus pembunuhan berantai di lorong Verona, kasus kematian bos gembong kriminal oleh seorang pembunuh bayaran, sampai ke berita internasional seperti kasus pembunuh gila dengan bunga mawar di London. Sementara itu, dari studio mini di sudut ruangan, seorang penyiar sedang melakukan take ulang pembacaan berita untuk segmen tengah malam, suara lantangnya teredam dinding akustik.

Tumpukan kertas, botol kopi yang hampir habis, papan timeline digital yang terus berubah warna, dan layar besar yang memantau breaking news internasional menambah semrawut yang terorganisir. Jam kerja tampak tidak relevan di tempat seperti ini—selama berita belum naik tayang, tidak ada yang benar-benar bisa pulang.

Namun, di tengah segala hiruk-pikuk itu, Isa duduk sendirian di sudut ruangan, menghadap tiga layar monitor yang penuh dengan grafik data, string kode, dan dokumen rahasia yang ia buka dengan hati-hati. Ia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang berada di jantung kesibukan kantor berita.

Posisinya di kantor tidak lazim. Isa bukan hanya seorang jurnalis investigasi—ia adalah otak dari misi-misi rahasia yang tidak diketahui banyak pihak. Bukan sekadar menulis atau meliput, ia melakukan tindakan yang lebih berbahaya, mengolah data bocoran dari whistleblower, menyusup ke sistem keuangan perusahaan gelap, dan merancang laporan investigasi yang bisa menjatuhkan konglomerat dalam satu tayangan.

Sore tadi, ia menghilang selama dua jam tanpa sepengetahuan rekan-rekannya. Saat wartawan lain sibuk di TKP, Isa justru bertemu dengan informan dari dalam Vireya Corporation, menyamar sebagai kurir makanan di sebuah gedung parkir bawah tanah. Dari sana, ia mendapatkan salinan file keuangan internal yang memperkuat kecurigaannya selama ini.

Dan kini, saat jarum jam nyaris menyentuh pukul delapan malam, Isa menyusun potongan-potongan itu. Namanya tidak pernah muncul di kredit liputan mana pun. Tapi setiap berita besar tentang korupsi, manipulasi saham, atau kejahatan perusahaan multinasional yang tayang dengan label “Eksklusif”—Isa selalu ada di belakangnya.

Ia mengetik cepat, sesekali mengerutkan kening.

Sesekali pikirannya terdistraksi tentang Bella dan Professor Said Baskara. Apapun yang terjadi, Bella tidak boleh bergabung. Bukan karena Bella tak mampu. Tapi karena ia tahu, begitu Bella masuk ke sana, gadis itu akan terjebak dalam jaringan busuk yang selama ini coba ia bongkar. Vireya bukan sekadar korporasi. Ia monster dengan banyak kepala. Dan Isa tidak akan membiarkan Bella jadi salah satu korbannya.

Di luar, riuh kantor makin keras. Tapi Isa tenggelam dalam pikirannya sendiri—berpacu melawan waktu, sebelum semuanya semakin rumit.

Ting!

Ponsel Isa berdenting pelan, pertanda pesan masuk. Isa segera meraihnya. Di layar, pesan dari Bella muncul.

Bella: Aku sudah di taman kota. Kamu di mana?

Isa segera membalas cepat.

Isa: Dalam perjalanan, sebentar lagi sampai.

Tanpa menunggu lama lagi, Isa segera mematikan komputer, mencabut flashdisk yang berisi dokumen penting sebagai amunisinya menjatuhkan Vireya Corporation. Komputer mendesing pelan sebelum benar-benar mati. Lima menit, setelah merapikan semuanya, ia segera beranjak dari tempat duduknya, bergegas menuju pintu keluar. Tanpa menoleh pada teman-temannya, tanpa kata pamit sedikit pun.

Isa menjejakkan kakinya keluar dari ruang Newsroom dengan langkah cepat, hampir tak terdengar. Pintu kaca menutup kembali di belakangnya dengan suara klik lembut, seolah menyegel kembali dunia yang penuh rahasia itu. Ia menyelipkan flashdisk kecil ke dalam saku dalam jaket kulitnya—posisinya selalu di sebelah kiri dada, tempat paling dekat dengan jantung.

Lorong lantai tiga masih ramai, beberapa jurnalis lalu-lalang sambil membawa map, kamera, atau hanya sekedar secangkir kopi panas. Wajah mereka tampak letih, tapi mata mereka masih menyala—sebuah semangat yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup untuk berita.

“Isa!” Suara seseorang memanggil. Suara itu berasal dari Meira, reporter hukum yang sedang berjalan ke arah lift sambil menggigit ujung pulpen.

Isa hanya melirik sekilas dan tersenyum singkat. “Nanti ya, Mei.”

“Tunggu, kamu belum—”

Lift terbuka. Isa langsung masuk sebelum Meira bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak berniat menjelaskan apa-apa malam ini.

Pintu lift menutup perlahan. Ia menatap angka-angka digital yang menurun—3... 2... 1—sembari mengatur napasnya yang sedikit memburu. Tangannya mengusap rambutnya ke belakang, gugup tanpa alasan. Di antara suara lift yang mendesing pelan, pikirannya kembali ke pesan Bella.

Aku sudah di taman kota.

Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, Isa langsung melangkah cepat ke luar. Bau tinta cetak, debu kertas, dan kopi sisa sore masih menggantung di udara. Beberapa karyawan shift malam duduk di ruang lounge, berbincang sambil menatap layar televisi yang menampilkan breaking news tentang ledakan pabrik kimia di luar kota.

“Isa!”

Kali ini suara itu berasal dari Pak Damar, kepala biro foto, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis sambil memeriksa hasil jepretan di kameranya. “Lihat hasil jepretan anak-anak siang tadi. Gila banget, satu frame dapet darah dan polisi bersamaan. Bisa buat page satu!”

Isa melambat sedikit, tapi tidak berhenti. “Keren, Pak. Kirim aja ke Bu Risa. Saya buru-buru.”

Damar mengangguk, meski wajahnya tampak ingin menunjukkan lebih banyak lagi.

Begitu melewati pintu kaca besar kantor, Isa langsung dihantam angin malam yang sejuk, membawa serta aroma aspal basah dan debu kota. Udara terasa sedikit lebih lengang dari siang hari, tapi lampu-lampu jalan tetap menyala cerah, menyinari trotoar dan kendaraan yang lalu-lalang.

Isa mempercepat langkahnya menuju Kawasaki Ninja H2R yang ia parkir di sisi kantor. Ia memasang helm cepat, lalu menyalakan mesin. Suara knalpotnya mengaum keras, cukup untuk menggetarkan dada. Ia tidak ingin membuang satu menit pun lagi.

Sebelum menarik gas, ia menatap lampu kota dari kejauhan—pijar-pijar yang tampak seperti kilau bintang, tapi palsu, buatan manusia. Lalu ia menarik gas, membelah malam, menuju taman kota tempat Bella menunggunya.

Namun, baru beberapa kilometer dari kantor, jalanan mendadak macet.

Semua kendaraan terhenti. Klakson bersahutan. Tapi anehnya, tak ada tanda-tanda kecelakaan atau pekerjaan jalan di depan. Polisi pun tak terlihat. Hanya antrean panjang kendaraan yang tak bergerak.

Isa melirik jam di speedometer motornya. 20.10. Instingnya sebagai penyelidik bekerja. Ada sesuatu yang tidak beres.

Ia menyalakan sinyal belok kiri, menarik kemudi, dan berbelok ke sebuah jalanan kecil yang hanya muat untuk satu mobil. Jalas pintas. Tidak ada pilihan lain, karena Isa harus bergegas, ia tidak mau membuat Bella menunggu lama karenanya.

Ia menurunkan kecepatan motornya. Jalanan sempit itu diapit oleh dinding-dinding tua gedung industri, dengan beberapa lampu jalan yang redup dan berkelap-kelip. Tak ada pejalan kaki, tak ada suara kendaraan lain. Bahkan, suara angin pun nyaris tak terdengar.

"Padahal belum larut malam, tapi jalanan sepi sekali..."

Perlahan, rasa tak nyaman merayap masuk ke dalam dirinya. Isa mempercepat laju motor. Suara mesin H2R meraung nyaring, menggema di antara lorong sempit dan tembok-tembok beton.

Saat ia hendak berbelok ke jalan berikutnya, lampu motornya menyorot sesuatu di kejauhan.

Sebuah mobil hitam mewah parkir di tengah jalan. Modelnya langka, jendela kaca gelap, plat nomor tak terlihat.

Di depan mobil itu, berdiri seorang pria.

Tubuhnya tegap. Ia mengenakan jas rapi berwarna hitam dan kemeja putih bersih. Kacamata hitam masih melekat di wajahnya meski malam begitu gelap. Tangan kirinya menyelip di saku, dan tangan kanan menggenggam korek untuk menyalakan rokok yang tersangkut di mulutnya.

Isa memperlambat laju motor. Ia mengenali pria itu.

"Lucien... Baskara." Jantungnya berdegup keras.

Nama itu sudah lama ada dalam daftar orang paling berbahaya yang ia telusuri selama ini. Bos dari organisasi kriminal terbesar di negeri ini, yang bersembunyi di balik kilau kemewahan dan formalitas bisnis. Putra dari Professor Said Baskara, ilmuwan sekaligus ketua divisi Vireya Neurolink di perusahaan Vireya Corporation.

Isa menurunkan satu kakinya ke aspal. Tangannya menggenggam kemudi, tubuhnya tegang. Ia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Misinya menghancurkan Vireya sepertinya sudah tercium, dan Professor Said segera memerintahkan anaknya untuk menyingkirkan dirinya.

Lucien mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat seperti menyapa teman lama.

"Malam yang indah untuk orang yang suka menggali terlalu dalam." Lucien berkata dengan nada santai, meski matanya tajam dan penuh ancaman.

Isa merogoh saku jaketnya. Di sana ada alat pelacak kecil, sebagai pertanda bahaya untuk teman dekatnya di kantor. Ali. Tapi sebelum ia sempat mengaktifkannya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Lima... tujuh... dua belas orang... Belasan pria bertubuh besar muncul dari balik gang dan bayangan tembok.

Mereka semua mengenakan pakaian serba gelap. Wajah mereka tertutup masker, tapi tangan-tangan mereka memegang pentungan logam, pisau, bahkan senjata api kecil.

Isa dikepung.

Jalan sempit itu kini menjadi perangkap sempurna.

"Dasar bajingan...." Isa mendengus, menggertakkan giginya sambil menyalakan kembali mesin motornya, bersiap untuk menabrak siapa pun yang berdiri di jalannya.

 

Komentar