pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
1. Paradoks Kehidupan
Langit senja itu terlihat tenang. Namun di dalam kepala Nara, badai tak pernah benar-benar reda.
Ia duduk di bangku taman kota yang mulai sepi, memandangi matahari yang pelan-pelan tenggelam di balik gedung pencakar langit. Tangannya gemetar memegang secangkir kopi yang mulai dingin, dan pikirannya melayang—ke arah pertanyaan-pertanyaan yang tak punya jawaban pasti.
"Kalau hidup itu pilihan, kenapa aku merasa tak pernah benar-benar memilih?"
Beberapa tahun lalu, Nara dikenal sebagai pemuda paling menjanjikan di kampusnya. Semua dosen bangga, semua teman kagum. Ia punya rencana hidup yang terstruktur, seperti algoritma yang tak boleh salah langkah. Namun, yang tidak ia sadari—struktur itu bukan pilihannya sendiri. Ia hanya menjalankan hidup yang dirancang orang lain.
Lulus dengan predikat cumlaude. Diterima di perusahaan besar. Punya apartemen sendiri. Stabil. Tapi hampa.
Cermin tak menjawab. Ia hanya memantulkan sosok pria dengan dasi rapi, tapi mata yang kehilangan cahaya.
Sejak malam itu, Nara mulai melakukan sesuatu yang disebut orang gila: menyabotase rutinitasnya sendiri. Ia datang telat ke kantor. Ia menolak promosi. Ia bicara dengan tunawisma di pinggir jalan. Ia membaca puisi. Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengarkan angin.
Namun, semakin ia mencari, semakin kabur bayangan siapa sebenarnya dirinya. Seperti mencoba melihat wajah sendiri tanpa cermin. Seperti menulis tanpa tinta.
Kini, duduk di taman itu, Nara sadar. Paradoks terbesarnya bukan soal pilihan hidup. Tapi soal eksistensi itu sendiri.
Ia tertawa pelan. Tawa yang getir.
Langit makin gelap. Namun dalam gelap itulah Nara mulai melihat sesuatu—bukan jawaban, tapi penerimaan.
Ia tak lagi mencari makna, tapi menciptakannya. Ia tak lagi memaksa dirinya menjadi utuh, tapi berdamai dengan retakan-retakan di dalamnya.
Nara berdiri. Meninggalkan bangku taman. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak tahu akan ke mana.
Tapi anehnya, itu membuatnya merasa bebas.
2. Paradoks Waktu
Namaku Aria. Aku seorang fisikawan waktu—atau begitulah orang menyebut profesiku sekarang.
Aku tidak percaya pada takdir. Tidak sebelum kejadian itu. Dan aku yakin, waktu adalah garis lurus. Arah ke depan. Tidak pernah mundur. Tidak pernah bercabang.
Sampai aku bertemu… diriku sendiri.
Semuanya dimulai dari percobaan di Laboratorium Waktu Nasional. Kami mengembangkan mesin waktu berdasarkan teori lengkungan gravitasi ekstrem. Tujuannya bukan untuk menjelajah masa lalu atau masa depan secara utuh—tapi sekadar mengirim objek kecil melintasi beberapa detik waktu.
Namun sesuatu yang aneh terjadi malam itu.
Saat aku sendiri menyelesaikan perhitungan terakhir dan menyalakan mesin, tiba-tiba monitor berkedip, lampu padam, dan suara mendengung menggema keras. Lalu… sunyi.
Ketika lampu kembali menyala, aku bukan lagi sendirian di ruangan itu.
Ada seseorang berdiri di pojok—bernapas terengah, mengenakan jaket lusuh penuh debu, rambut acak-acakan. Tapi wajahnya…
Itu aku.
Wajah yang sama. Tatapan yang sama. Luka kecil di bawah mata kiri yang kudapat saat kecil karena jatuh dari sepeda.
"Apa ini semacam hologram?" bisikku.
Tapi sosok itu menggeleng. "Aku... kau. Dari masa depan."
Aku menatapnya—diriku—tak percaya. Tapi sebelum sempat bertanya, ia berbicara lebih cepat.
"Aku datang untuk mencegahmu menyalakan mesin itu lagi. Hentikan semuanya. Sebelum waktu terperangkap dalam siklus yang tak bisa kau hentikan."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Setiap kali kau menghidupkan mesin, kau menciptakan percabangan. Tapi bukan seperti dunia paralel yang kau bayangkan. Ini… lingkaran. Kau akan selalu mengulang. Dan pada akhirnya, kau akan menjadi aku—terperangkap, mencoba memperingatkan dirimu sendiri."
"Jadi… kau di sini karena mencoba menghentikan percobaan ini?" tanyaku pelan.
Ia mengangguk. Matanya terlihat lelah. Teramat lelah.
"Aku pernah jadi kau. Penuh semangat. Penuh keyakinan bahwa sains bisa menaklukkan waktu. Tapi aku salah. Waktu… bukan garis lurus. Ia lingkaran. Dan kita semua—hanyalah pengulangan dari keputusan kita sendiri."
Aku menggeleng, masih tak percaya. "Kalau benar kau dari masa depan, kenapa kau tak mencoba cara lain? Kenapa hanya memperingatkan?"
Ia menarik napas panjang. "Karena setiap kali aku mencoba mencegah, hasilnya tetap sama. Aku kembali ke masa ini. Bertemu denganmu. Memberi peringatan. Lalu menghilang. Dan kau… tetap melanjutkan percobaan. Lalu kelak jadi aku."
Aku tak tahu bagaimana ia menghilang malam itu. Tubuhnya seperti kabut yang terserap oleh ruang itu sendiri. Tapi aku tak bisa melupakan wajahnya—wajahku—yang tampak putus asa.
Dan seperti yang ia katakan, aku tetap melanjutkan percobaan.
Mungkin karena aku tak percaya. Mungkin karena aku ingin membuktikan kalau masa depan tak bisa datang lebih dulu dari pilihan kita.
Namun kini aku berdiri di pojok ruangan ini. Nafasku berat. Rambutku acak-acakan. Jaketku berdebu.
Mesin waktu baru saja menyala.
Dan aku melihat diriku sendiri—versi yang lebih muda, berdiri di depan konsol, menatapku dengan mata membelalak.
Aku tahu apa yang harus kukatakan.
Komentar
Posting Komentar