pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| via Wikimedia Commons |
Sebelum langit dan bumi terbentuk seperti sekarang, sebelum waktu mengalir seperti sungai tak bertepi, dan sebelum manusia mengenal air mata, tawa, dan cinta—Allah telah menetapkan satu kisah besar untuk dimulai. Kisah tentang asal mula kita. Tentang manusia pertama. Tentang sang ayah dari seluruh keturunan manusia.
Dialah Adam, 'alayhis salam.
Ketika para malaikat bertanya kepada Allah, “Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah?” Maka Allah menjawab, “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
Lahirlah Adam dari segumpal tanah. Tanah yang berasal dari berbagai warna, rasa, dan tempat di bumi. Tanah hitam yang keras, tanah merah yang basah, tanah putih yang lembut, semuanya membentuk tubuh seorang manusia—menandakan bahwa kelak, anak cucunya akan berbeda rupa, warna kulit, watak, dan tabiat. Ada yang lembut, ada yang keras. Ada yang tenang, ada yang cepat marah. Tapi semua berasal dari satu ruh: ruh ciptaan Allah.
Allah tiupkan ruh itu ke dalam jasad Adam, dan tiba-tiba daging dan tulang yang sebelumnya diam kini hidup, bernapas, dan melihat dunia. Ia berdiri tegak, menatap langit, melihat malaikat, dan menyebut nama-nama.
Allah mengajarkan kepada Adam segala nama-nama benda. Sebuah ilmu yang tidak dimiliki para malaikat. Ketika Allah menguji para malaikat, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda ini jika kalian benar,” maka mereka pun berkata, “Maha Suci Engkau, kami tidak mengetahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”
Lalu Allah berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, sebutkanlah nama-nama benda itu.” Dan Adam pun menyebutkannya satu per satu. Inilah bukti pertama bahwa manusia memiliki akal, ilmu, dan kehendak bebas—sebuah tanggung jawab besar yang tak dimiliki langit dan bumi.
Allah tempatkan Adam di surga. Sebuah tempat dengan sungai-sungai mengalir, pepohonan penuh buah-buahan, dan kedamaian yang tak pernah bisa dibayangkan manusia di bumi. Tapi Adam tidak sendiri. Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuknya agar ia tidak kesepian. Bersama Hawa, Adam hidup bahagia.
Namun, satu larangan Allah berikan: “Janganlah kamu dekati pohon ini, niscaya kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
Tapi, iblis sudah menaruh dendam. Ia yang dulunya ahli ibadah, enggan sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia—diciptakan dari api, bukan tanah. Kesombongannya membuatnya terusir. Maka ia bersumpah untuk menyesatkan Adam dan keturunannya, dan membuat mereka melupakan perintah Allah.
Dengan tipu daya yang halus dan bisikan yang memikat, iblis menggoda mereka berdua, “Tuhanmu tidak melarang pohon ini kecuali karena kamu akan menjadi malaikat atau akan kekal selamanya.” Lalu Adam dan Hawa tergelincir, dan memakan buah pohon terlarang itu.
Begitu rasa malu menyelimuti mereka, mereka segera menutupi tubuh dengan daun-daun surga. Mereka menangis, menyesali kesalahan yang dilakukan bukan karena ingin kekuasaan, tapi karena tertipu oleh musuh yang telah bertekad membinasakan.
Allah menerima taubat Adam, tapi tetap menurunkan mereka ke bumi, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai permulaan dari kisah besar manusia.
“Turunlah kalian semua! Sebagian kalian menjadi musuh bagi yang lain. Dan di bumi itu ada tempat tinggal dan kesenangan untuk waktu tertentu.”
Adam tidak turun ke bumi sebagai pendosa. Ia turun sebagai nabi pertama, yang membawa cahaya petunjuk dari langit. Di bumi, Adam belajar menanam, memanen, hidup bersama istri dan anak-anaknya. Ia ajarkan manusia untuk mengenal api, mengenal tulisan, mengenal Allah.
Dari keturunannya, lahirlah dua anak: Qabil dan Habil, yang menjadi awal perselisihan manusia. Kecemburuan, kemarahan, dan darah pun tercurah untuk pertama kali. Adam pun menangis—seorang ayah yang kehilangan anak karena anak lainnya. Dan sejak saat itu, manusia mewarisi dua sisi dari Adam: sisi yang mencintai kebenaran, dan sisi yang mudah tergoda oleh keburukan.
Saat ajalnya tiba, bumi kehilangan sosok manusia yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Tapi langit mencatat: Adam telah memenuhi tugasnya. Ia telah menjadi khalifah pertama, pemula peradaban, pembuka jalan bagi 124.000 nabi setelahnya.
Namanya kekal di kitab-kitab langit. Doanya hidup di hati manusia:
"Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa, wa illam taghfir lanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin."
"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi."
Dan dari Adam-lah, kita semua berasal.
Komentar
Posting Komentar