pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di tengah padang gersang yang terbentang luas di jazirah Arab, kala manusia masih tertatih mencari arah dalam kabut kejahilan, lahirlah seorang pria yang akan mengguncang sejarah, bukan dengan kekuatan pedang, bukan pula dengan gelimang harta, melainkan dengan kelembutan hati dan cahaya risalah. Namanya Muhammad, ﷺ — nama yang kini menggema di hati miliaran manusia, yang disebut-sebut dalam setiap doa, dalam setiap shalawat, dalam setiap bisikan cinta kepada Yang Maha Tinggi.
Beliau bukan raja, bukan pula putra bangsawan. Namun ketulusan wajahnya dan akhlaknya yang agung menjadikannya sosok paling dicintai. Ia tumbuh sebagai yatim, tanpa perlindungan sang ayah sejak dalam kandungan, dan ditinggal ibunda di usia belia. Tapi takdir tak menelantarkannya — justru menempanya. Gurun yang sunyi dan malam yang membeku menjadi saksi bisu bagaimana Allah sendiri mendidiknya, membentuknya menjadi pribadi yang kelak disebut sebagai khairul khalqi ajma'in — sebaik-baik ciptaan seluruh alam.
Ketika dunia Arab terbelah oleh suku dan dendam, Muhammad datang membawa risalah tauhid, menyerukan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa semua manusia setara. Dakwahnya di awal penuh luka dan cacian. Ia dicemooh, dilempari batu, bahkan diancam kematian. Tapi keteguhan hatinya lebih kokoh dari bebatuan Thaif yang pernah menyakitinya. Ketika orang-orang menolaknya, langit menyambutnya. Ketika manusia menutup telinga, Jibril membisikkan wahyu di dadanya.
Beliau bukan hanya nabi, tetapi ayah yang penuh kasih, sahabat yang jujur, pemimpin yang adil, dan panglima yang tak pernah mencederai kehormatan musuhnya. Dalam setiap langkahnya, ada rahmat. Dalam setiap kata-katanya, ada petunjuk. Dalam setiap diamnya, ada kedalaman yang membuat dunia tunduk. Akhlaknya adalah Al-Qur'an. Ia bukan hanya membawa kitab, tetapi menjadi kitab yang hidup.
Madinah menjadi kota yang bangkit dari puing perpecahan berkat kehadirannya. Ia menjahit luka kaum Muhajirin dan Anshar, menghapus dendam yang berakar, lalu menanam benih persaudaraan yang mengakar hingga hari ini. Di Perang Badar, Uhud, hingga Hunain, beliau berdiri di garis terdepan, bukan untuk mencederai, tapi untuk menjaga kehormatan umatnya dan menyampaikan kebenaran hingga tuntas.
Dan ketika kemenangan berada di tangannya, seperti di Fathu Makkah, ia tak memilih balas dendam. Bibirnya justru melafazkan kata-kata paling agung yang pernah terdengar di antara para penakluk: "Pergilah, kalian semua bebas." Seorang pemaaf sejati. Seorang pemenang sejati.
Muhammad ﷺ tidak meninggalkan istana megah. Ia tak pernah bersantap mewah. Ia tidur di atas tikar kasar, dan mengikat perutnya dengan batu kala lapar. Tapi warisannya adalah peradaban. Ajarannya melampaui masa, melampaui geografi, melampaui ras dan bahasa. Ia adalah nabi bagi semua, rahmat bagi semesta.
Hari ini, lebih dari 14 abad berlalu, namun namanya tetap paling disebut. Tak ada detik pun di bumi ini tanpa ada suara yang melafalkan "Muhammad Rasulullah." Ia adalah cahaya yang tak pernah padam, pelita di tengah zaman yang gelap. Sosok yang setiap gelarnya adalah pujian dari langit: Al-Amin, Al-Musthafa, Habibullah.
Dan ketika beliau wafat, dunia menangis. Tapi cahaya itu tak ikut padam. Ia hidup di dada mereka yang bersujud, dalam dzikir mereka yang merindu, dalam akhlak mereka yang meneladani.
Muhammad ﷺ — bukan sekadar nama. Ia adalah jawaban atas doa para nabi. Ia adalah pelita terakhir umat manusia. Ia adalah cinta yang tak pernah usang, cahaya yang tak akan pernah redup.
Di malam yang sunyi, ketika dunia tenggelam dalam gelap,
Engkau lahir—cahaya yang menembus segala kelam.
Tak bersinggasana, namun hatimu lebih mulia dari segala kerajaan,
Tak bertongkat emas, namun ucapanmu mengguncang gunung keimanan.
Ya Rasul, langkahmu ringan, namun mengguratkan sejarah abadi.
Matamu redup menatap dunia, namun dalamnya menyimpan samudra kasih.
Dahimu berkeringat untuk umat yang belum kau jumpai,
Lidahmu tak henti menyebut: Ummati… ummati…
Di antara batu dan debu, engkau sabar dalam cercaan,
Di antara bayang-bayang pedang, engkau tetap membawa salam.
Bukan amarah yang engkau balas untuk pengkhianatan,
Melainkan maaf yang engkau hamparkan, seluas langit malam.
Engkau tak meminta dipuja,
Tapi siapa bisa menahan rindu padamu, wahai Kekasih Tuhan?
Tak tertakar cinta ini, meski berjuta bait puisi ditulis,
Tak tertampung rindu ini, meski selaut air mata ditumpahkan.
Engkau bukan hanya utusan,
Engkau adalah pelipur dalam luka dunia,
Engkau bukan hanya pemimpin,
Engkau adalah pelita bagi hati yang gelap gulita.
Kami terpaut padamu, bukan hanya karena iman,
Tapi karena engkau mengajarkan kami mencintai tanpa syarat,
Mengasihi tanpa pamrih,
Mengorbankan segalanya, demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang terperosok dalam malam.
Ya Habiballah…
Dalam setiap sujud kami terselip namamu,
Dalam setiap hembus nafas kami, rindu akanmu mengalun,
Dan dalam setiap akhir doa, harap kami satu:
Berjumpa denganmu,
Di telaga yang dijanjikan…
Di bawah cahaya wajahmu,
Yang tak pernah redup oleh waktu.
Komentar
Posting Komentar