Kisah Nyata: Terror Halus di Rumah Baru


 Beberapa tahun setelah kejadian mencekam di pabrik yogurt, hidup Sita perlahan membaik. Ia menikah dengan lelaki sederhana yang penuh kasih, dan kini tinggal bersama suami serta dua anaknya—Dimas yang berusia sekitar enam tahun, dan Rika, bayi perempuan yang baru belajar berjalan—di sebuah rumah sewaan di daerah Caringin, Kota Bandung.

Rumah itu berada di ujung sebuah gang kecil, tersembunyi di antara tembok-tembok tua. Rumah satu lantai itu sederhana sekali. Tidak ada kamar tidur, tidak ada gudang, hanya ruang tamu luas berukuran lima belas kali sepuluh meter yang mereka gunakan untuk tidur bersama di atas satu kasur besar. Di bagian belakang ada dua ruang kecil—dapur dan kamar mandi. Awalnya, Sita bersyukur memiliki atap di atas kepala. Tapi sejak malam pertama, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat itu.

Bukan karena rumah itu tua. Bukan karena remang lampunya yang seperti enggan menyala sepenuhnya. Tapi karena... sunyinya terasa seperti menelan.

Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Sita terbangun oleh suara desah napas Dimas di sebelahnya. Anak itu masih terlelap, begitu pula suaminya dan Rika. Sita berguling perlahan, hendak duduk dan mulai hari—namun tubuhnya berhenti seketika.

Di atas tubuh mereka... berserakan batu bata merah. Batu-batu itu tergeletak begitu saja di atas selimut, di atas bantal, bahkan menindih tubuh Dimas dan suaminya. Tapi anehnya... tak satu pun dari mereka terbangun karena tertimpa.

Sita menahan napas. Ruangan ini tak punya loteng. Tak ada tumpukan batu. Tak ada tempat tinggi. Lalu... dari mana?

Dengan gemetar ia membangunkan suaminya. Pria itu terkejut bukan main, langsung memindahkan batu satu per satu. Dimas hanya mengerang kesal, dan Rika mulai menangis.

“Aneh banget,” bisik suaminya. “Kamu denger suara jatuh tadi malam?”

Sita hanya menggeleng. Bahkan sekecil gemeretak pun tidak. Batu-batu itu seolah muncul begitu saja—diam-diam, di tengah tidur mereka yang tak tahu apa-apa.

Beberapa hari kemudian, Sita terbangun lebih awal dari biasanya. Azan Subuh belum terdengar, tapi matanya tak bisa tertutup lagi. Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Suara tangisan Rika sempat terdengar pelan, tapi kembali hening setelah suaminya menepuk-nepuknya lembut.

Di dalam kamar mandi, udara dingin merayap ke tulangnya. Ia menyalakan lampu redup dan mulai membersihkan diri. Baru beberapa cipratan air menyentuh wajahnya, ketika... suara itu datang.

“Sita...”

Pelan. Lirih. Seperti angin yang menyeret bisikan ke dalam liang telinganya. Ia menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa.

“Sitaaa...”

Kali ini dari arah depan. Tapi bagaimana bisa? Ia sendirian. Suaminya dan anak-anak masih di ruang tamu. Tak mungkin suara mereka.

Ia berdiri membeku selama satu menit, hanya mendengar detak jantungnya sendiri dan tetes air dari ember di sampingnya.

Lalu, suara itu hilang. Begitu saja.

Keesokan harinya, giliran Dimas yang mengalami sesuatu.

Anak itu sedang mandi siang hari. Pintu kamar mandi setengah tertutup, dan Sita sibuk menyiapkan makan siang di dapur. Tiba-tiba, jeritan memekik dari kamar mandi.

“Maaa!! Maaa!!”

Sita berlari. Dimas duduk di pojok kamar mandi, tubuhnya basah kuyup, menangis sejadi-jadinya.

“Ada suara, Ma! Suara orang marah! Terus... suara kayak... kayak orang gigit-gigit!” Ia menunjuk ke ember, lalu ke sumur kecil di ujung kamar mandi. “Tadi kayak ada yang jalan di air...”

Sita memeluk Dimas erat. Tubuh anak itu gemetar hebat. Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang tak bisa dijelaskan, tumbuh dari sumur itu… seperti mata yang mengintip dari bawah permukaan air.

Malam berikutnya, sekitar pukul satu dini hari, Sita kehausan. Ia berjalan pelan ke kamar mandi, menimba air untuk minum. Saat timbanya menyentuh air... suara itu datang.

BYUR. BYUR. BYUR.

Seperti seseorang yang berenang panik, seperti tubuh yang terjebak dan berusaha ke permukaan. Ia mencengkeram gagang timba, matanya menatap ke dalam sumur.

SPLASH! SPLASH!

Suara tangan menghantam air. Jeritan pendek. Lalu... hilang.

Sita tidak bisa bergerak. Ia tidak berani menimba air. Ia tidak berani mendekat lagi. Ia hanya berbalik perlahan... dan kembali ke ruang tamu, menahan gemetar, dan menatap Rika yang tertidur dengan wajah yang entah mengapa... terlihat takut.

Hari-hari setelah itu berjalan dengan penuh ketegangan. Rika sering menangis keras di malam hari, menatap sudut ruangan kosong seperti melihat seseorang berdiri di sana. Dimas mulai mengigau, menyebut “ada yang jalan-jalan di lantai” saat semua sedang tidur.

Puncaknya terjadi seminggu kemudian. Tengah malam, kasur mereka bergerak sendiri—pelan-pelan, seperti ditarik dari bawah. Suami Sita terbangun dan melihat bekas telapak tangan basah di lantai, meninggalkan jejak dari tempat tidur menuju dapur… dan berhenti di dinding kosong.

Tak perlu diskusi. Mereka tahu waktunya pergi.

Malam itu juga, mereka angkat barang seadanya dan pergi. Sita menggenggam tangan Dimas erat, menggendong Rika yang terus menangis, sementara suaminya menutup pintu tanpa menoleh ke belakang.

Dan rumah itu... kembali sunyi.

Beberapa bulan setelahnya, mereka mendengar kabar dari seorang tetangga. “Penghuni sebelumnya juga begitu. Pergi tengah malam. Bawa anak-anak. Sama kayak kalian.”

Kini rumah itu dibiarkan kosong.

Namun bila kau lewat sana di dini hari, di gang sunyi di Caringin, kau mungkin masih bisa mendengar suara... jeritan air dari sumur.

Atau... bisikan seseorang yang memanggil dari kamar mandi.

“Sita...”


Komentar