Kisah Nyata: Sepatu Yang Berjalan Sendiri


Tahun 1995. Musik dari radio menyelimuti malam dengan lagu-lagu tren yang kerap diputar di setiap warung, rumah, dan pabrik kecil. Suara tembang mellow bergema pelan dari sudut ruangan, mengalun bersamaan dengan dengungan lampu neon yang menggantung rendah di langit-langit.

Di sebuah pabrik yogurt rumahan yang terletak di tengah permukiman padat Kota Bandung, dua perempuan duduk berdampingan di sofa tua berwarna krem. Sita dan Ati, dua pekerja shift malam, memutuskan untuk menginap malam itu. Bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, dan Pak Eko, satpam yang biasa berjaga, sedang pulang kampung untuk beberapa hari.

“Daripada pulang sendirian jam segini, kita nginep aja di sini, ya, Ti?” Sita melipat tangannya, bersandar pada sofa krem yang sedikit kumuh itu.

Ati mengangguk. “Nanti kita ambil bantal di kamar Pak Eko. Tidur di sofa juga cukup lah.”

Obrolan ringan mengalir seperti biasanya. Mereka membahas hal-hal kecil—tentang harga yogurt yang katanya mau naik, tentang lagu-lagu baru yang diputar radio, hingga tentang rencana akhir pekan. Malam itu seharusnya menjadi malam biasa. Tapi entah kenapa, suara dari radio terasa mengganggu. Lagu yang diputar bukannya membuat tenang, malah justru menambah sunyi yang menggigit.

Dan dari ruang dapur, yang hanya dipisahkan oleh lorong tanpa pintu, suara itu datang.

Langkah. Berat. Seret. BERHENTAK.

Seperti seseorang yang berjalan dengan sepatu bot besar di lantai semen.

DUG. DUG. DUG.

Sita dan Ati saling menoleh. Mereka tahu tidak ada siapa-siapa di dalam. Semua pekerja sudah pulang sejak sore. Hanya mereka berdua di sana.

“Ti... emang di belakang ada orang?” Sita bertanya, matanya membulat.

Ati hanya menggeleng perlahan. Wajahnya mulai terlihat ketakutan.

Suara langkah itu tidak hanya jelas, tapi juga semakin mendekat. Suaranya bergema, keras, seperti menantang keberanian mereka untuk tetap duduk diam.

Lalu, dari lorong gelap itu, muncul sesuatu.

Sepasang sepatu bot. Hitam. Besar. Berdebu.

Berjalan.

Tanpa kaki. 

Tanpa tubuh.

Tanpa pemilik.

Sepatu itu benar-benar melangkah sendiri dari dalam kegelapan dapur. Solnya menghantam lantai dengan keras, satu... dua... tiga langkah… hingga berhenti tepat di depan Ati.

Sita dan Ati menjerit serempak, tubuh mereka terpaku setengah detik sebelum akhirnya refleks menyeret tubuh masing-masing untuk lari keluar. Namun pintu utama hanya cukup untuk satu orang. Mereka saling dorong, saling panik, sampai akhirnya berhasil menerobos ke luar, menubruk malam dingin di halaman depan pabrik.

Mereka tak berani bicara satu kata pun. Hanya berdiri membeku di bawah pohon, dengan napas tersengal, tubuh gemetar, dan mata yang tak berani memandang ke balik jendela.

Dan di dalam... suara radio terus menyala. Lagu mellow tahun 90-an masih mengalun, seakan tak terjadi apa-apa.

Mereka tidak tidur malam itu, hanya bersandar pada tembok luar, membeku hingga matahari menyingsing dan ayam berkokok dari kejauhan.

Esok harinya, saat pemilik pabrik datang, mereka hanya bisa menceritakan sebagian. Karena tak ada yang bisa benar-benar percaya... bahwa ada sepatu yang bisa berjalan sendiri.

Namun bagi Sita dan Ati, kejadian malam itu lebih dari cukup untuk meninggalkan satu luka ingatan yang tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.

Komentar