Kisah Nyata: NONI BELANDA DI PABRIK YOGURT

 Malam mulai turun di kawasan Kebon Kalapa, Kota Bandung. Angin berhembus lembut membawa aroma khas rumah tua dan kenangan yang tak terucapkan. Di sudut sebuah rumah kosong yang kini berfungsi sebagai tempat produksi dadakan sebuah pabrik yogurt rumahan, lima orang perempuan duduk berjajar di lantai semen yang dingin, menunggu yogurt matang dalam mesin pendingin kecil yang menyala tanpa semangat.

Di antara mereka ada seorang gadis muda bernama Sita, pegawai baru yang baru seminggu direkrut. Senyumnya ramah, tangannya cekatan, dan semangatnya selalu menyala—meski malam itu, ia merasa ada yang berbeda. Rumah itu bukan tempat produksi utama, hanya dipakai saat pabrik pusat mengalami kerusakan listrik. Menurut pemilik pabrik, rumah kosong ini dulunya milik orang Belanda yang kemudian ditinggalkan setelah kemerdekaan. Sekilas terlihat biasa, tapi konon katanya—dan ini hanya bisik-bisik dari para pekerja lama—selalu ada kejadian aneh di rumah itu.

"Produksi harus dikebut malam ini. Besok ada pengecekan BPOM."  Bu Erna, salah satu pekerja senior yang sudah memiliki dua anak. Suaranya terdengar malas, seperti dipaksa oleh keadaan.

Satu per satu mereka mulai bekerja. Ada yang mengaduk bahan, ada yang menata botol, dan sebagian lain mencatat di buku log produksi. Obrolan ringan mengalir, membahas harga telur yang naik, sinetron yang makin absurd, dan anak-anak yang susah bangun untuk sekolah.

Namun di tengah semua itu, Sita tiba-tiba terdiam. Ia sedang mengambil air dari galon di sudut ruangan saat matanya menangkap sesuatu yang tidak semestinya ada.

Di seberang ruangan, tepatnya sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri, ada sosok... melayang. Sosok perempuan berpakaian putih keperakan, lengkap dengan topi besar ala bangsawan belanda dan rok panjang seperti dalam lukisan-lukisan kolonial. Rambut pirangnya disanggul rapi, wajahnya pucat, tapi tidak menakutkan—lebih seperti patung lilin yang transparan, menatap kosong ke arah pintu kamar mandi tua yang sudah rapuh kayunya.

Sita membeku.

Ia tahu ia tidak salah lihat. Sosok itu tak punya kaki, melayang perlahan... meluncur ke arah pintu kamar mandi. Tidak menoleh. Tidak bersuara. Hanya... lewat.

"Sita, kamu kenapa bengong?"

Suara itu membuatnya tersentak. Seorang ibu paruh baya menepuk pundaknya ringan. Tapi saat Sita menoleh kembali ke arah pintu kamar mandi... sosok itu sudah hilang.

"Mbak, tadi... di situ ada..." Sita menunjuk. Tapi tak ada yang aneh lagi di sana.

"Jangan aneh-aneh. Lanjut kerja saja. Biar cepat beres."

Malam terus berjalan, tapi suasana tak lagi sama. Obrolan perlahan terhenti. Satu per satu dari mereka mulai merasa tidak nyaman. Bu Erna yang tadi cerewet, sekarang duduk memeluk lutut, terus melirik ke arah langit-langit. Sri, yang paling cerewet, tiba-tiba pamit ke belakang rumah dengan wajah pucat. Tapi saat ditanya, dia bilang hanya ingin menenangkan diri.

Sita masih gelisah. Ia mencoba menyibukkan diri, tapi matanya terus melirik ke pintu kamar mandi yang tadi dilalui sosok itu. Dan ketika tak sengaja ia menatap ke cermin kecil di dekat wastafel... ia melihatnya lagi.

Sosok yang sama.

Tapi kali ini, Sita bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Noni Belanda itu... menangis. Air mata menetes dari matanya yang tak berkedip. Ia seperti memohon sesuatu, seakan meminta agar seseorang melihatnya. Memahaminya.

Seketika, suasana berubah drastis. Pintu kamar mandi yang rapuh itu terbuka sendiri dengan bunyi decitan panjang yang membuat semua yang ada di ruangan terdiam. Tak ada angin. Tak ada orang yang menyentuh. Tapi pintunya terbuka perlahan.

Dan dari dalam... terdengar tangisan anak kecil.

Padahal mereka tahu, tidak ada anak-anak di rumah itu.

Bu Erna berdiri gemetar. "Sudah... sudah cukup. Kita bawa semua bahan dan keluar sekarang."

"Tapi yogurt-nya—"

"BIARIN!" Bu Erna membentak, "Rumah ini... dulunya punya sejarah kelam. Dulu, pemiliknya orang Belanda. Katanya dia punya anak, tapi meninggal karena tenggelam di kamar mandi itu. Sejak itu, dia juga menghilang. Banyak yang bilang arwahnya masih menunggu anaknya kembali... dan malam ini, mungkin dia pikir kita... membawa anak-anaknya."

Semua terdiam. Suara tangis masih terdengar samar, sebelum akhirnya pelan-pelan menghilang... seiring pintu kamar mandi yang menutup sendiri dengan bunyi keras BRAK!.

Mereka pergi malam itu juga. Tak satu pun yang menoleh ke belakang.

Dan sejak saat itu, rumah kosong itu tak pernah lagi digunakan. Pemilik pabrik mencari tempat produksi baru. Rumah itu kini dibiarkan kosong, dikelilingi rumput liar dan kabar burung.

Tapi Sita tahu... kadang, jika kau lewat sana di malam hari, kamu bisa melihatnya dari balik jendela kayu tua.

Sosok seorang Noni Belanda, berdiri menatapmu dengan mata sayu. Mungkin menunggumu membuka pintu. Atau... hanya sekadar ingin yogurt untuk anaknya.

#cerpenhoror #kisahnyata #cerpenmistis #ceritahororindonesia #rumangkosong #nonibelanda #ceritabandunghoror #cerpenmalamjumat #pengalamansupranatural #rumahangker #kisahseram #cerpenmonseur #ceritapabrik #urbanlegendindonesia

Komentar