Cerpen Romance: Roses for London

    Di balik dinding batu kawasan tua di distrik Montmartre, pria itu dikenal dengan satu nama: London.

    Bukan karena dia berasal dari kota itu, melainkan karena semua pekerjaannya—setiap pembunuhan, setiap penghilangan, setiap kebakaran yang dibungkus rapi—selalu dikirim ke satu alamat email: deadroses@londonmail.uk.

    London adalah pembunuh bayaran paling dicari di Eropa. Tak ada yang pernah melihat wajahnya dua kali dan tetap hidup. Ia selalu datang seperti kabut, dingin, bersih, dan meninggalkan satu tanda kecil di TKP, mawar merah—segar, setangkai, dan berdarah.

    Tapi tak ada yang tahu, dalam salah satu misi pembunuhan paling bersih yang pernah ia lakukan, dia menyisakan satu saksi hidup. Seorang wanita muda, pianis kafe malam yang baru pulang saat London keluar dari rumah korban.

    Namanya Isolde. Dan London, untuk pertama kalinya, tidak menarik pelatuk.

    Isolde tinggal di sebuah apartemen kecil yang menempel di bangunan tua tempat pembunuhan itu terjadi. Ia melihat London malam itu—berpakaian hitam, wajah tertutup masker, mata yang tajam seperti belati. Dan dia tahu, pria itu melihatnya juga.

Namun ia tidak dibunuh. Hanya ditatap, lalu ditinggalkan.

Besoknya, di depan pintu apartemennya, ada setangkai mawar merah.
Tidak berdarah. Tidak berbau kematian.
Hanya... mekar.

    Beberapa minggu kemudian, Isolde mulai melihat pria itu. Duduk di bangku taman tempat ia sering membaca. Berdiri di lorong belakang kafe tempat ia bermain piano. Tidak dekat. Tidak berbicara. Tapi ada. Selalu ada.

    Dan anehnya, kehadiran itu tidak menakutkan. Justru seperti bayangan yang menjaga dari jauh. Isolde tak pernah melapor. Tak pernah bertanya. Ia hanya membiarkan keberadaan London menjadi semacam… ritual bisu.

    Sampai suatu malam, setelah lagu terakhir yang ia mainkan di kafe, ia mendapati sebuah kertas di dalam saku mantel pianonya.

"Kau satu-satunya orang yang kusisakan dalam hidup,
dan entah kenapa… aku ingin kau tetap di dalamnya."

    Tertanda: L

    London mulai muncul lebih sering. Bukan sebagai pembunuh, tapi sebagai pria bisu yang duduk di pojok kafe sambil menatap Isolde bermain piano. Mereka tak berbicara, tapi tiap melodi yang dimainkan Isolde seolah berbicara mewakili keduanya.

    Ia memainkan lagu-lagu yang tidak pernah diajarkan siapa pun. Lagu-lagu yang diciptakannya sendiri. Untuk pria yang membawa kematian, namun memandangnya seolah ia adalah kehidupan.

    Isolde jatuh cinta, perlahan. Meskipun ia tahu… pria itu tidak normal. Meskipun ia mendengar berita tentang pembunuhan-pembunuhan tanpa jejak. Ia tahu… pria yang datang setiap malam itu adalah kematian yang berdiri di ambang pintunya.

    Dan tetap, ia mencintainya.

    London pun mulai berubah. Ia mulai menggigil saat menarik pelatuk. Mulai membiarkan satu atau dua target kabur. Hingga suatu malam, ia membatalkan seluruh kontrak yang sudah dijadwalkan.

    Karena malam itu, ia tahu Isolde dalam bahaya. Salah satu bos kriminal yang mempekerjakannya mengetahui bahwa ia berhenti membunuh. Dan Isolde menjadi alasan utama kenapa ia berhenti.

    London datang ke apartemennya, tak dengan mawar, tak dengan senjata. Tapi dengan luka—di perutnya, tembakan bersarang, darah menetes di koridor.

    Isolde panik. Tapi tidak berteriak. Ia menariknya masuk, menutup pintu, dan menangis dalam diam saat pria itu bersandar di dinding apartemennya, menatap langit-langit.

    London, si pembunuh bayaran dingin tak bernama itu, menggenggam tangan Isolde dan berkata,

“Aku tak pernah mencintai siapa pun. Tapi sekarang aku paham mengapa orang menyesal... sebelum mati.”

Isolde menatapnya dengan mata basah.

“Kalau begitu, jangan mati.”

    Pagi itu, polisi menemukan dua jenazah di pelataran sungai Seine. Keduanya terbakar di dalam mobil hitam. Di kursi belakang mobil, tertinggal dua hal: satu koper berisi uang, dan setangkai mawar merah.

    Namun ada satu hal aneh…

    Di kafe tempat Isolde biasa bermain, seminggu setelah kejadian itu, terdengar dentingan piano. Lagu yang tak dikenal siapa pun. Dan di pojok ruangan, seorang pria bertopi duduk diam, menggenggam tangan wanita dengan gaun biru langit.

    Beberapa mengatakan itu hantu. Yang lain bilang itu hanya bayangan. Tapi setiap malam, di meja mereka, ada satu vas kaca.

Dengan mawar merah.

Selalu segar.

Komentar