pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
“Kebenaran tak perlu didorong, ia akan berdiri sendiri. Tetapi kebatilan perlu disangga, karena ia akan tumbang bila ditinggal.”
— A. Hassan
Di antara para pemikir yang berjalan dalam sunyi, ada satu nama yang mengaum dari podium dan pena: Ahmad Hassan, atau yang lebih dikenal sebagai A. Hassan. Ia tidak lahir untuk membisikkan, melainkan untuk menantang. Bukan untuk menyenangkan banyak orang, tetapi untuk mencerahkan, meski cahaya itu menyilaukan dan menyakitkan.
Bandung menjadi saksi ketika dari rumah-rumah kecil dan majelis-majelis diskusi, lahirlah gagasan-gagasan yang menggugat taklid dan menampar kemapanan. A. Hassan adalah suara yang bersih dari keraguan. Di tengah arus pemikiran Islam yang terbagi antara tradisi dan pembaruan, ia memilih jalan paling sulit: kebenaran, walau sendiri.
Lahir tahun 1887 di Singapura dari keluarga keturunan India, A. Hassan tidak tumbuh dalam kehangatan akademi formal, tetapi dalam gelora kehausan akan ilmu yang otentik. Ia tidak pernah menapaki gelar-gelar resmi seperti “kyai” atau “ulama besar.” Namun justru karena itulah ia bisa berdiri tegak tanpa beban gelar.
Hijrahnya ke Indonesia membawa nyala itu semakin dekat ke jantung umat. Di Bandung, ia aktif dalam Persatuan Islam (Persis)—organisasi yang menjadi rumah bagi gagasan-gagasannya tentang kemurnian ajaran, pentingnya ijtihad, dan perlunya membebaskan umat dari kungkungan tradisi yang membatu.
Hidupnya sederhana, bajunya bersahaja, tetapi lisan dan tulisannya membelah zaman. Dari rumahnya yang juga menjadi pusat tanya-jawab agama, lahir ratusan perdebatan sehat dan pemikiran segar. Ia mengajarkan bahwa Islam bukan benda mati yang diwariskan buta, melainkan sesuatu yang diperjuangkan dengan akal dan iman.
A. Hassan meletakkan tinta bukan sebagai hiasan, tapi sebagai senjata. Dalam karyanya yang terkenal, Soal Jawab dan Tanya Jawab Agama, ia membuka ruang yang sangat langka pada zamannya: diskusi terbuka tentang hukum, akidah, bahkan kritik terhadap pemahaman mayoritas. Setiap pertanyaan dijawab lugas, tegas, dan tanpa basa-basi. Tapi tak satu pun yang kehilangan adab.
Ia tidak mengkultuskan siapa pun, termasuk ulama besar dari masa lalu. “Kebenaran bukan milik madzhab,” katanya. Maka ia membaca ulang semua dalil—tidak dengan emosi, tetapi dengan akal yang jernih. Ia berani menyelisihi pendapat mayoritas, bahkan ketika sendirian. Baginya, kebenaran bukan apa yang populer, tapi apa yang kuat dalilnya.
Dalam banyak hal, A. Hassan adalah penentang kebekuan. Ia melawan pemikiran stagnan dan menolak menjadikan tradisi sebagai penjara. Namun, ia tidak pula menolak masa lalu. Ia menghormati ulama terdahulu, tetapi menolak menjadikan mereka sebagai hakim terakhir. Yang berhak mengikat umat, menurutnya, hanyalah Al-Qur’an dan Hadis yang sahih.
Salah satu babak paling menarik dalam perjalanan intelektual A. Hassan adalah debatnya dengan Bung Karno, yang saat itu menulis makalah berjudul Islam Sontoloyo. Soekarno, yang masih muda dan sedang membentuk pandangan ideologisnya, mengkritik perilaku umat Islam yang menurutnya tidak rasional dan penuh tahayul.
A. Hassan tidak marah, tapi menanggapi dengan dalil. Ia menulis, menjawab, dan menggugat dengan ketajaman yang mengesankan. Dalam debat itu, terlihat bagaimana dua tokoh besar bangsa ini beradu gagasan: yang satu bicara dari semangat revolusi, yang satu bicara dari kedalaman teks dan akal.
Perdebatan itu bukan perang ego. Ia adalah panggung paling sehat dalam sejarah pemikiran Indonesia. Tidak ada caci maki, tidak ada fitnah. Hanya kejujuran berpikir. Dan itulah warisan A. Hassan yang sejati: ia tidak pernah takut berbeda, asalkan dasar perbedaan itu adalah nalar dan dalil.
Di antara para tokoh besar yang memenuhi buku sejarah, nama A. Hassan jarang disebut. Ia tidak menjadi presiden, tidak pula pendiri partai. Tapi ia adalah penabur benih-benih keberanian berpikir—yang hari ini mekar dalam gerakan pembaruan Islam, tafsir rasional, dan dialog mazhab.
Warisannya adalah cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa Islam bukan hanya untuk diimani, tetapi juga untuk dimengerti, dipelajari, diuji, dan dihidupkan kembali. Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap Muslim punya hak dan kewajiban untuk berijtihad—bukan menyerah pada dogma yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Hari ini, banyak dari kita mungkin lupa pada sosoknya. Tapi ide-idenya hadir di balik gerakan dakwah yang kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis, pada kajian yang membuka ruang tanya, pada tulisan-tulisan yang menggugat kejumudan. Dan di situlah, A. Hassan masih hidup.
A. Hassan wafat pada 1958, dalam usia 71 tahun. Ia tidak meninggalkan istana, tidak mewariskan kekuasaan. Tapi ia meninggalkan sesuatu yang lebih langgeng: cara melihat kebenaran dengan jernih.
Ia adalah tokoh yang tidak hidup untuk disanjung, tetapi untuk menunjukkan bahwa kebenaran tak akan pernah bisa dibungkam. Di setiap podium yang jujur, di setiap pena yang menolak tunduk, di setiap diskusi yang mencari cahaya, ada napas A. Hassan di sana—tak terlihat, tapi terasa.
“Saya tidak takut disalahkan manusia. Saya takut disalahkan oleh Allah karena saya diam melihat kebatilan.”— A. Hassan
Semoga kita semua tidak menjadi generasi yang membiarkan nama-nama besar seperti A. Hassan mengendap dalam debu sejarah. Karena bangsa yang besar bukan hanya mengenal pahlawan bersenjata, tapi juga mereka yang berjuang di medan akal dan nurani.
#ahmadhassan #tokohislam #sejarahindonesia #pemikirislam #persis #mujaddidnusantara #ijtihad #islammurni #suarakebenaran #ulamaintelektual #penjuangpemikiran #tanpataklid #sangsingapodium #diskusiterbuka #tanyajawabagama
Komentar
Posting Komentar