pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ada tiga salinan buku Dinding Keempat di perpustakaan Calista Minor. Semuanya identik: tanpa nama penulis, tanpa sinopsis, dan selalu berada di rak paling bawah, tersembunyi di antara buku-buku keperawatan yang tak pernah dibuka.
Aryasena membawa ketiganya ke ruang konsultasi. Membandingkan halaman per halaman.
Semuanya sama. Kecuali satu hal.
Pada halaman 237 salinan ketiga, ada coretan tangan.
“Untuk keluar, jangan cari pintu.
Cari bagian yang belum ditulis.
Di situlah kamu bisa bebas.”
Ia terdiam lama.
Bagian yang belum ditulis.
Satu-satunya ruang kosong dalam sistem ini... adalah ruang tanpa naskah.
Aryasena mencoret dinding ruang konsultasi dengan spidol merah:
“Apa artinya kebebasan kalau semua langkahku sudah ada di halaman berikutnya?”
Dan ia memutuskan: ia akan mencari bagian dunia ini yang belum diskenariokan.
Malam itu, ia mulai menguji fasilitas.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong kecil, mencoba membuka pintu-pintu yang tak pernah dikunjungi. Beberapa terbuka. Sebagian terkunci.
Tapi satu lorong, paling ujung, di belakang ruang gudang, tidak pernah ada di denah.
Lorong itu sempit. Dindingnya tidak seperti lainnya. Bukan beton, tapi kayu lapuk.
Di ujungnya, satu pintu. Dan di atas pintu itu, terukir:
“Ruang Penulis”
Aryasena membuka perlahan.
Ruangan itu kosong.
Tidak ada kursi. Tidak ada meja. Hanya satu jendela, yang menghadap ke langit—dan di bawah jendela, lantai bertuliskan rapi dalam tulisan tangan:
“Tempat ini belum selesai ditulis.”“Kau bisa mulai dari sini.”
Ia mengambil buku catatan kosong dari lemari tua di ruangan itu.
Dan mulai menulis ulang dirinya sendiri.
“Namaku bukan Aryasena. Itu nama yang diberikan naskah ini.”
“Aku memilih nama baru: Radya. Berarti ‘penjaga.’ Karena aku memilih menjaga pikiranku sendiri.”
“Aku bukan psikiater. Aku bukan pasien. Aku hanya... penonton yang diberi tubuh.”
“Dan mulai sekarang, aku yang menulis.”
Begitu tinta terakhir kering, sesuatu bergetar.
Ruang itu mulai retak. Dinding kayu runtuh perlahan, dan di baliknya—
Tidak ada.
Hanya putih. Lembaran putih tak berujung. Tanpa langit. Tanpa lantai.
Aryasena melangkah.
Dan suara terdengar dari arah yang tidak jelas:
“Kau keluar dari cerita. Tapi kau belum keluar dari pembaca.”
Ia berhenti.
Lalu ia menulis satu kalimat terakhir.
“Jika kau membaca ini, tolong tuliskan aku kembali. Tapi kali ini... sebagai diriku sendiri.”
Komentar
Posting Komentar