pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Aryasena tidak tidur selama dua hari. Ia juga tidak makan. Tapi tubuhnya tidak merasa lapar, tidak lelah. Seolah fungsi dasar manusia mulai ditunda oleh sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang tak ia mengerti.
Ia kini tinggal di ruang konsultasi itu. Tepat di mana semuanya dimulai.
Mesin tik tua di hadapannya tidak berdebu, tidak aus, seolah baru dibuat kemarin. Di sampingnya, kertas bergulung-gulung berisi cerita-cerita pendek yang tak ia ingat menulisnya. Namun setiap kali ia membaca ulang, ia tahu: itu tulisannya.
Tulisan yang menyimpan teka-teki. Tulisan yang menggambarkan hidupnya... sebelum ini.
Salah satu cerita berjudul "Tangga Tanpa Bayangan".
Dalam cerita itu, seorang pria bernama Aryasena terus naik ke atas menara pencakar langit. Tapi setiap tangga yang ia lewati tak punya bayangan. Dan setiap lantai membawa wajah-wajah dari masa lalu—ayahnya yang tak pernah ia temui, ibunya yang selalu menangis, dan seorang anak kecil yang memanggilnya “penulis.”
Ia membacanya berulang kali, hingga tiba di kalimat terakhir:
"Dan saat ia mencapai puncak, ia tidak menemukan dunia. Ia hanya menemukan jendela. Di balik jendela itu—seorang pembaca. Yang terus menatapnya, diam-diam."
Aryasena mendongak.
Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat.
Bukan oleh kamera. Bukan oleh manusia.
Tapi oleh... sesuatu.
Malam itu, suara-suara dari langit-langit kembali terdengar. Namun tidak sekadar langkah.
Ada bisikan.
“Tulislah pintumu sendiri.”
Ia berlari ke ruang server kembali. Kini ia tahu bahwa pusat dari semua ilusi bukan pada ruangan, bukan pada orang. Tapi pada cerita yang ditulis.
Ia membuka kembali folder eksperimen.
Dan menemukan satu file baru: FinalDraft_DindingKeempat.txt
Ia klik. File terbuka.
Dan isinya—
BAB I“Aryasena membuka file terakhir dan membaca kata-kata yang telah diramalkan sebelumnya.”
BAB II“Ia mencoba menghentikan cerita, tapi sadar semua aksinya hanya memperpanjangnya.”
BAB III“Ia mencari penulis, tetapi menemukan dirinya sendiri di balik layar.”
BAB IV“Ia menulis ini sekarang. Ia menulis dan berpura-pura bahwa ia sedang membaca. Tapi sebenarnya ia sedang diamati.”
BAB V“Orang yang membaca ini adalah bagian dari panggung. Mereka percaya mereka bebas. Tapi mereka hanya... karakter latar.”
“Tidak mungkin,” Aryasena mendesis.
Ia menutup file itu. Tapi monitor tetap menyala.
Kata-kata terus bertambah sendiri.
Dan sekarang, layar menunjukkan satu kalimat baru:
“Berbaliklah, Aryasena.”
Ia mematung.
Selama sepuluh detik, ia tidak bergerak. Tapi jantungnya menolak diam.
Ia menoleh perlahan ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi di tembok, dengan cat hitam, tertulis huruf besar:
“Kau sedang dibaca.”
Setelah itu, ia kembali ke kamar. Kini ia tak mencoba lagi mencari pintu keluar.
Ia mulai menulis.
Menulis tentang dunia yang tidak bisa dibedakan antara akal dan fiksi. Tentang orang-orang yang hidup di antara paragraf dan jeda. Tentang sistem yang mendesain manusia bukan untuk sembuh, tapi untuk diperhatikan.
Dan setiap malam, ia menulis satu teka-teki baru di kertas yang diselipkan ke bawah pintu pasien lain.
Suatu malam, ia menulis:
“Apa yang tak bisa kau lihat, tapi melihatmu lebih dulu?”(Jawaban: halaman pertama)
Dan keesokan paginya, ia mendapat balasan:
“Apa yang tidak bisa mati, kecuali kau berhenti membaca?”(Jawaban: aku.)
Akhir pekan, seluruh fasilitas kosong.
Para staf tidak terlihat. Perawat tidak merespon panggilan. Semua pasien diam di kamar masing-masing. Kecuali satu.
Aryasena mendatangi kamar 13—yang konon dulunya tidak pernah terisi. Ia membuka pelan.
Di dalam, ada sebuah kursi. Meja. Dan di atasnya, sebuah buku tebal.
Judulnya: “Dinding Keempat”
Penulis: Tidak Ada.
Ia buka halaman pertama.
“Terima kasih telah membaca sampai sejauh ini.”
“Tapi ini bukan cerita tentang aku.”
“Ini tentang kau.”
“Yang sekarang memegang cerita ini.”
“Yang sedang membaca kata-kata ini.”
“Yang mungkin berpikir bahwa kau bukan bagian dari ini.”
“Tapi coba pikir ulang.”
“Kapan terakhir kali kau yakin hidupmu bukan cerita yang sedang ditulis oleh orang lain?”
Komentar
Posting Komentar