DINDING KEEMPAT Bagian 2: Subjek Ke-42

 

Aryasena tidak ingat bagaimana ia kembali ke kamarnya malam itu. Yang ia tahu, map merah bertuliskan SUBJEK #42 kini ada di pangkuannya, jari-jarinya berkeringat saat membalik halaman pertama.

“Subjek menunjukkan potensi tinggi untuk manipulasi respons terhadap realita artifisial. Penempatan di Calista Minor bertujuan untuk observasi dalam sistem tertutup.”

Tangannya bergetar.

Realita artifisial?

Aryasena memandang sekeliling kamar. Tirai tebal, meja kayu, ranjang dengan pelapis biru laut. Selalu terasa biasa—sekarang... terasa panggung.

Lembar berikutnya adalah salinan pesan elektronik yang tidak pernah ia baca sebelumnya. Ditujukan pada “Kepala Penelitian Internal” dan menyebut namanya berulang kali.

“Subjek menunjukkan tingkat integrasi tinggi terhadap identitas yang ditanamkan. Ia percaya bahwa dirinya adalah psikiater baru, dan belum menunjukkan tanda sadar bahwa dirinya adalah bagian dari percobaan.”

Bunyi tawa kecil terdengar dari lorong. Lalu... bisikan.

Seseorang—atau sesuatu—berjalan pelan di balik pintu. Aryasena meraih pulpen dari saku jasnya—senjata paling sia-sia untuk rasa takut.

Pukul 03.14, ia menyelinap kembali ke ruang konsultasi. P.014 duduk menunggu.

“Kau tahu semuanya,” gumam Aryasena. “Dari awal.”

“Ya,” jawab pria itu. “Dan kau juga tahu sekarang.”

“Apa ini eksperimen? Aku... pasien?”

P.014 tersenyum. “Kau pikir ‘aku’ itu siapa?”

Esok paginya, Aryasena menghampiri perawat kepala—Bu Imah. Seorang perempuan tua berwajah keras yang mengelola obat-obatan dan kamar pasien sejak fasilitas itu didirikan.

“Bu... siapa yang membawa saya ke sini?”

Bu Imah diam sejenak. “Dokter dikirim dari pusat. Ada suratnya.”

“Surat yang tidak ditandatangani dan tidak ada nomor rujukan.”

“Y-ya. Tapi itu biasa... untuk kasus... khusus.”

Aryasena mengunci mata dengan Bu Imah. “Saya ingin salinan rekaman kamera masuk gedung ini dua bulan lalu. Hari saya datang.”

Wajah Bu Imah langsung pucat.

“Saya... saya rasa... data itu sudah dihapus.”

“Kenapa?”

“Hanya... prosedur.”

“Kalau begitu, saya ingin bicara dengan direktur.”

Tak ada direktur.

Gedung ini tidak punya kepala tetap. Semua korespondensi dilakukan lewat sistem email internal yang selalu gagal dikirim. Telepon? Hanya satu untuk keadaan darurat. Tapi setiap ia coba, hanya ada suara dengung statis… dan sekali, suara desah nafas panjang, seperti seseorang sedang mendengarkan dari seberang.

Ia pergi ke ruang server malam harinya. Menggunakan akses ID yang ditemukan di dalam map merah.

Di antara kabel-kabel kusut dan pendingin ruangan yang terus berdengung, ia menemukan satu folder terproteksi. Ia mencoba tanggal lahirnya sebagai sandi.

Berhasil.

Folder itu berisi video, ratusan. Tapi semua tidak diberi judul, hanya angka.

Ia buka video berjudul 042.

Tampilannya gelap, samar, lalu... sebuah ruangan. Dirinya sendiri—duduk, dengan kepala tertekuk. Di sekitarnya berdiri lima orang berseragam lab, wajah mereka diburamkan.

Salah satu suara berkata: “Tes imersi tahap keempat berhasil. Subjek menunjukkan ilusi total terhadap konstruksi peran. Ia kini percaya sebagai pengamat, bukan peserta.”

Aryasena mencengkeram sisi meja. Video itu berdurasi dua jam. Ia menontonnya sampai habis, tanpa kedip.

Di menit terakhir, kamera mendekat ke wajahnya. Mulutnya terbuka sedikit. Ia berkata:

“Tolong... jangan tulis aku seperti ini.”

Besoknya, pasien P.014 tidak ada di kamar. Tapi bukan karena hilang.

Kamar itu kosong—rapi, tidak disentuh. Tidak ada tanda siapa pun pernah tinggal di sana. Di sistem catatan, tidak ada pasien bernama P.014. Bahkan nomor itu dilewati, langsung dari 013 ke 015.

Aryasena berlari ke ruang arsip, membuka kembali semua map fisik. Tidak ada map merah.

Ia kembali ke ruang konsultasi dan melihat catatannya sendiri.

Bersih.

Buku itu kosong. Semua halaman.

Di belakangnya, pintu menutup sendiri. Suara klik mengunci.

Lalu suara itu terdengar. Suara pria yang ia kenal.

“Sekarang giliranmu menulis, Dok.”

Dalam sekejap, lampu ruangan redup. Dinding-dinding berubah—tidak lagi putih bersih, tapi seperti dinding panggung kayu lapuk. Dan di tengah ruangan, sebuah mesin tik tua berdiri.

Aryasena mendekat. Di atasnya, secarik kertas sudah disisipkan. Di baris pertama tertulis:

“Bab 1: Subjek #43 memasuki ruangan, tidak sadar bahwa kini ia menjadi tokoh.”

Dan tiba-tiba... ia menyadari satu hal.

P.014 bukan pasien. Bukan juga penguji. Ia adalah tulisan. Ia hidup sejauh Aryasena percaya bahwa ia nyata.

Tapi sekarang, kepercayaan itu runtuh.

Dan gilirannya dimulai.

Ia duduk. Mengetik dengan jari gemetar.

Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.

Tapi aku tahu aku sedang dibaca.

Dan yang membaca ini... mungkin bagian dari eksperimen juga.

Komentar