pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Aryasena menutup map berlabel P.014. Tangannya gemetar ringan, tapi ia menyembunyikannya di balik jas putih yang terlalu bersih untuk tempat ini. Ia tersenyum kecil—profesional. Seolah tak terusik oleh ucapan pasien di hadapannya.
“Dan yang kau lakukan sekarang… duduk di kursi itu, memiringkan kepala sedikit ke kiri... itu juga sudah tertulis.”
Aryasena memperhatikan pria kurus itu. Mata hitamnya kosong tapi tajam. Tidak seperti pasien psikotik biasa—tidak ada delusi acak atau gejala manik. Yang ini... tenang. Terlalu tenang.
“Kalau begitu,” Aryasena mencatat perlahan, “apa selanjutnya yang kutulis tentangmu?”
Pria itu tersenyum. “Kau berhenti menulis... dan mulai mendengar.”
Gedung Rehabilitasi Jiwa Calista Minor berdiri di atas bekas rumah jompo era kolonial yang diubah fungsinya pada 1984. Lokasinya terpencil, di antara lembah dan kebun pinus mati. Dinding bangunannya terlalu tebal untuk sinyal masuk, dan terlalu tinggi untuk suara keluar. Cocok untuk pasien gangguan berat. Cocok juga untuk mereka yang ingin menghilang.
Aryasena ditempatkan di sini bukan karena kesalahan. Ia memilihnya. Ia ingin menjauh dari hiruk-pikuk klinik kota, ingin menguji dirinya dengan kasus yang ‘tak biasa’. Ia percaya, psikiatri bukan sekadar tentang obat—tetapi tentang menemukan cara pikiran manusia melindungi dirinya sendiri, walau dengan cara paling gelap sekalipun.
Pasien P.014 masuk dua minggu sebelum Aryasena ditugaskan. Tidak ada dokumen medis. Tidak ada identitas. Ia ditemukan di pinggir jalan—telanjang kaki, dengan sebuah buku catatan kosong di tangannya. Tapi yang aneh, halaman terakhirnya berisi 41 baris—dan setiap baris adalah nama staf Calista Minor.
Nama Aryasena ada di baris ke-42.
Dan dia bahkan belum bekerja di sana waktu itu.
Ruang konsultasi dihiasi dengan lukisan-lukisan warna tanah yang entah mengapa selalu miring lima derajat ke kanan, walau sudah dibetulkan. Aryasena pernah mencoba menyesuaikan satu dengan sempurna. Lima menit kemudian, lukisan itu sudah kembali miring.
Hari ini, pasien P.014 menulis sesuatu. Ia biasanya tidak mau memegang pulpen.
“Apa yang kau tulis?” Aryasena bertanya .
Pria itu mengangkat catatannya. Hanya satu kalimat.
Hanya yang melihat keempat dinding yang bisa menemukan pintu.
“Apa maksudnya?” Aryasena bertanya lagi.
Pasien menjawab sambil tersenyum samar, “Pintu keluar hanya bisa dilihat oleh orang yang sadar bahwa ia sedang dikurung.”
“Kau merasa dikurung di sini?”
Pria itu tertawa kecil. “Dokter, aku tidak sedang bicara tentang tempat ini.”
Dan saat Aryasena hendak bertanya lagi, pria itu mengucap, “Ada seseorang yang akan menghilang malam ini. Dan bukan aku.”
Pukul 22.47. Alarm berbunyi.
Seorang pasien, P.009, ditemukan hilang dari kamarnya. Tak ada jejak. Kamera pengawas merekam ia tertidur jam 21.00 dan... kosong pada pukul 22.35. Tak ada celah. Tak ada tamu masuk. Tak ada pintu terbuka. Tapi pasien itu lenyap seperti dilenyapkan oleh udara.
Aryasena berdiri di depan pintu P.014 pagi harinya, menahan degup jantungnya.
Saat pintu dibuka, pria itu duduk tenang di kursinya. Membaca buku kosong.
“Kau tahu yang hilang tadi malam?”
“Ya,” jawab pria itu tanpa menoleh.
“Bagaimana kau tahu?”
“Kau belum sadar ya, Dok?”
“Sadar apa?”
“Bahwa ini bukan tempat rehabilitasi.”
Aryasena menahan napas. “Lalu tempat apa ini menurutmu?”
Pria itu menoleh. “Ini... adalah panggung. Dan kita semua sedang memainkan peran.”
Aryasena mencatat isi percakapan hari itu dalam jurnal pribadi. Bukan laporan resmi. Ia merasa, semakin ia masuk ke dalam dunia P.014, semakin banyak bagian dari dirinya sendiri yang menjadi... tidak nyata.
Ia menatap tulisan di jurnalnya sendiri:
"Pintu keluar hanya bisa dilihat oleh orang yang sadar bahwa ia sedang dikurung."
Ia terdiam.
Kemudian berpikir—kapan terakhir kali ia melihat dunia luar?
Bahkan sinyal ponselnya selalu mati. Internet pusat selalu ‘under maintenance’. Ia menulis laporan mingguan tapi tak pernah mendapat balasan. Lalu ia buka kembali surat penempatan yang ia dapat dua bulan lalu.
Tidak ada kop resmi. Tidak ada tanda tangan. Hanya sebuah stempel buram: Calista Minor – Subjek Diterima.
Subjek?
Hari ketujuh.
Dua pasien lain menghilang.
Kali ini, bukan hanya staf yang panik. Beberapa pasien mulai histeris. Mereka bilang mendengar langkah kaki di atap pada malam hari. Ada juga yang mengaku dikunjungi ‘orang berjubah tanpa wajah’ saat tidur.
Aryasena mulai mimpi buruk setiap malam. Dalam mimpinya, ia duduk di kursi pasien P.014, dan dirinya sendiri—versi tua, lusuh, dengan mata cekung—menatap dari balik catatan.
Malam itu, ia kembali menemui P.014. Kali ini tanpa rekaman. Tanpa catatan.
“Aku tidak percaya lagi kau sakit.”
Pria itu tersenyum. “Akhirnya.”
“Aku percaya kau tahu sesuatu.”
Pria itu berdiri dan berjalan ke dinding barat ruangan.
“Hitung jari-jariku." Pria itu merentangkan jemarinya.
“Apa maksudmu?”
“Hitung. Sekarang.”
Aryasena ragu, tapi mulai menghitung. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam... tujuh?
Dia melotot. Tangan pria itu—memiliki tujuh jari.
Dan jari ketujuh menekan sesuatu di dinding. Sebuah klik terdengar.
Dinding bergeser. Ruang rahasia terbuka. Dan di dalamnya—
Terdapat meja operasi, kamera tersembunyi, dan tumpukan catatan pasien.
Termasuk satu map merah, bertuliskan SUBJEK #42 – Aryasena Damar.
Komentar
Posting Komentar