pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Semua orang di kantor tahu bahwa kursi nomor tiga belas tidak boleh diduduki.
Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada memo HRD, tidak juga aturan tertulis. Tapi entah kenapa, semua orang tahu dan semua orang patuh.
Kursi itu ada di sudut ruang kerja bagian keuangan—di antara kursi Rafi dan kursi Dinda. Meja yang menghadap ke jendela tua, menguning karena sinar matahari sore yang jatuh dari sela tirai yang malas.
Lalu datanglah Gilang.
Anak baru. 26 tahun. Lulusan universitas ternama. Potongan rambutnya rapi, langkahnya penuh semangat, dan senyumnya terlalu bersih untuk kantor ini.
Hari pertama, ia memilih meja itu.
“Eh, Gilang...” Rafi berbisik, setengah menoleh dari monitor. “Mungkin mending pilih meja lain, deh.”
“Kenapa?” Gilang bertanya polos.
Rafi menggeleng. “Nggak enak dijelasin. Tapi pokoknya, jangan yang itu.”
Gilang tertawa kecil. “Ini kantor atau rumah hantu?”
Tak ada yang jawab. Bahkan Dinda, si tukang komentar, memilih diam. Mereka hanya saling bertukar pandang dan kembali mengetik, membiarkan anak baru itu memutuskan nasibnya sendiri.
Dan ia tetap duduk di sana.
Hari-hari pertama biasa saja. Gilang cepat belajar, humoris, dan cepat disukai banyak orang. Tapi dua minggu kemudian, ia berubah. Tidak drastis, tapi cukup terasa.
Ia jadi lebih pendiam. Matanya sering kosong. Kadang terdengar dia bicara sendiri—pelan, seperti sedang menanggapi seseorang yang tidak terlihat.
Suatu sore, saat Rafi lembur, ia mendengar Gilang berbicara lirih.
Rafi tak berani bergerak.
Keesokan harinya, Gilang tak masuk. HRD bilang dia mengundurkan diri tiba-tiba lewat email yang hanya berisi tiga kalimat:
"Saya salah pilih tempat duduk. Terima kasih atas semuanya. Maaf sudah membangunkannya."
Setelah itu, kursi nomor tiga belas kembali kosong. Tapi yang membuat Rafi tidak bisa tidur adalah satu hal:
Gilang bukan orang pertama yang menulis kalimat itu.
Komentar
Posting Komentar