pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Jalanan di bawah sana ramai sekali.
Namun bukan karena kendaraan yang berlalu-lalang, bukan deru klakson yang bersahutan, bukan pula karena angkutan umum yang semaunya berhenti di tengah jalan, menghalangi lalu lintas dan membuat orang-orang memaki.
Bukan karena itu jalanan menjadi ramai.
Melainkan karena manusia—orang-orang yang berlarian, saling mengejar dan dikejar. Kekacauan tumpah di segala arah. Gas air mata menari di udara, asap hitam menggumpal menutupi langit, dan api melahap kendaraan di tepi jalan seolah ia juga marah atas segalanya.
Toko-toko porak poranda, dijarah tanpa belas kasihan. Barang-barang dilempar, dibakar, direnggut dari rak-raknya seperti tidak pernah bernilai. Kengerian menggantung di udara seperti bau mesiu yang menolak hilang.
Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Memberontak. Melawan dengan tubuh mereka sendiri. Demonstrasi terbesar sepanjang sejarah negeri ini. Dan harga dari sebuah perlawanan bukanlah murah—ratusan, mungkin ribuan korban berjatuhan. Mulai dari mereka yang membawa idealisme, hingga warga sipil yang hanya salah berada di waktu dan tempat yang keliru.
Dan di tengah amukan itu, aku berdiri membisu. Di atap sebuah gedung empat lantai, memandang ke bawah.
Mataku menangkap cipratan darah yang menghiasi aspal, bercampur air hujan semalam yang belum mengering. Mayat tergeletak seperti boneka patah. Jeritan bercampur tembakan. Luka menggurat kota ini, dan aku bertanya dalam hati, “Ayah, apakah ini yang kau harapkan?”
***
“Bu... Ayah mau ke mana?”
Usiaku baru genap enam tahun kala itu. Pertanyaan itu meluncur polos dari mulutku, seperti anak-anak lain yang bertanya saat melihat ayahnya menghilang di balik pintu. Tapi tak seperti anak-anak lain, ibuku tidak menjawab dengan senyum.
Ia justru menunduk, menahan tangis yang membuncah, berusaha tegar di hadapanku. Tapi tetap saja, air mata itu jatuh. Perlahan.
Ayah melangkah pergi memakai seragam abu-abu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di bagian punggungnya tertulis sesuatu—aku tak bisa membacanya saat itu. Tapi kini, aku tahu. Itu bukan nama. Itu adalah profesi. Itu adalah sumpah.
Sebelum pergi, Ayah mendekatiku. Ia mengangkatku dalam pelukannya—begitu ringan. Tubuhku kecil, dan tubuhnya besar, tegap, dengan sorot mata yang tajam namun penuh kasih.
Ia tersenyum. Senyum yang sangat tulus. Jika aku sudah cukup dewasa waktu itu, mungkin aku akan menangis saat melihatnya.
Hening.
Tak ada kata yang keluar. Tapi atmosfirnya sendu. Bahkan udara pun enggan bergerak.
Ibu berdiri di belakang Ayah, dan pada akhirnya air mata itu jatuh juga.
Ayah memandangku dalam diam, lalu akhirnya berkata, suaranya lembut namun berat:
“Ayah pergi dulu, Nak.... Doakan agar Ayah bisa pulang dalam waktu dekat. Jangan nakal, ya. Dengar kata Ibu. Suatu hari nanti... Ayah yakin kamu akan jadi anak yang kuat. Anak yang tangguh.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba menahan sesuatu yang memberontak dari dalam dadanya.
“Di luar sana… banyak sekali orang jahat, Nak. Mereka bersembunyi. Tapi ada pula yang terang-terangan memamerkan kekuasaan mereka. Mereka menyebar seperti virus. Mengalir dari lorong gelap, keluar ke permukaan, dan berbaur seperti manusia biasa… Bahkan orang yang paling kita percaya pun, bisa jadi ialah pengkhianatnya.”
“Ada yang duduk nyaman di singgasana kemewahan, tapi menginjak-injak rakyat kecil. Masalah rakyat mereka tutup telinga. Dan bila ada yang berani bersuara... maka kematian adalah jawabannya.”
“Mereka serakah. Mereka egois. Mereka adalah bandit—tikus berdasi.”
Wajah Ayah saat itu sungguh serius. Bola matanya berkaca-kaca. Tapi aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Aku hanya mengangguk pelan, mungkin karena merasa harus.
Lalu Ayah menurunkanku. Perlahan.
Air mata yang tadinya disembunyikan, akhirnya jatuh juga. Membasahi lantai ubin di ruang tamu rumah kecil kami.
Ia memelukku. Hangat. Penuh cinta. Dan membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Ayah yakin kau akan tumbuh menjadi orang hebat. Seseorang yang kuat. Berjanjilah, Yudi... tegakkan keadilan, dengan apa pun yang kau punya. Walau yang menghalangimu adalah... orang yang kau cintai.”
Ayah melepaskan pelukannya. Mencium keningku. Menatapku dalam-dalam—seakan sedang melihat masa depan yang ia pertaruhkan seluruh hidupnya.
Sejak hari itu, Ayah pergi.
Langkah kakinya terdengar berat, namun pasti. Setiap ketukan sepatu seperti dentang lonceng yang perlahan menghilang—meninggalkan aku dan Ibu dalam sunyi.
Udara pagi masih dingin. Burung-burung di luar bernyanyi seperti biasa, seolah dunia tidak tahu bahwa pagi ini ada perpisahan besar sedang terjadi.
Aku dan Ibu masih mematung di ambang pintu. Menatap jalanan, menatap dunia yang terus berjalan, sementara kami diam di tempat.
“Ayah akan berjuang, Nak.... Doakan semoga dia baik-baik saja. Doakan dia tidak berubah....” Ibu nyaris berbisik. Air matanya akhirnya tumpah.
Aku memeluknya. Ia memelukku lebih erat lagi.
“Doakan apa, Bu?” Aku bertanya polos.
Ibuku menggigit bibir. Suaranya tercekat, namun akhirnya terucap juga:
“Doakan... agar Ayahmu tetap di jalan yang benar. Tetap di pihak yang adil.”
Aku terdiam.
Aku belum mengerti apa maksud semua ini.
Belum…
***
Sejak kepergian Ayah, aku dan ibuku sama sekali tidak pernah mengetahui kabarnya, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya.
Aku tumbuh tanpa sosok ayah yang menemani. Di saat orang lain bahagia bersama ayah mereka, aku hanya bisa menatap dengan senyum tipis—membayangkan andai aku berada di posisi mereka.
Tapi aku tetap bersabar menunggu.
Lima tahun telah berlalu.
Waktu berjalan lambat sekali bagiku, bocah kecil bernama Yudi. Seorang anak lelaki yang setiap hari duduk di depan rumah, menanti ayahnya pulang. Dari mulai senja menyinari dinding rumah, hingga matahari tenggelam sepenuhnya, menyerahkan dunia pada malam yang kelam. Sunyi. Begitupun hatinya. Namun ia tetap menunggu.
Pandanganku saat itu tak pernah luput dari pintu. Harapan sebesar langit menari-nari di dadanya. Tapi sosok itu tak kunjung muncul. Bayangan tubuh tinggi besar itu tetap tinggal sebagai angan-angan.
Hingga hari itu datang. Hari ketika kabar buruk datang mengetuk pintu.
***
BUKK!!
Satu pukulan keras menghantam perutku. Tubuhku terpental dua langkah ke belakang. Rasa sakit menyebar hingga ulu hati.
Lawan di depanku tak menyia-nyiakan kesempatan. Tendangan cepat mengarah ke kepalaku. Aku sigap mengangkat tangan kiri, menangkis serangan itu dengan keras.
Belum sempat bernapas, ia kembali menyerang. Pukulan demi pukulan meluncur deras ke arahku.
WUT! WUT!
Serangan bertubi-tubi.
Aku mundur, menangkis satu per satu pukulan yang datang. Tapi lawanku terlalu agresif. Aku mulai tersudut, napasku memburu. Tapi aku tidak akan kalah. Tidak hari ini.
Aku menangkap tangan kirinya, memutar tubuh, dan membantingnya keras ke bawah.
Aku segera mundur dua langkah. Mengambil kuda-kuda Jantungku berdegup kencang.
Lawanku belum kalah. Dia bangkit dan tersenyum kearahku. Tatapannya mengintimidasi. Ikut mengambil kuda-kuda.
Dia merangsek maju. Cepat sekali pergerakannya. Dalam hitungan detik dia telah berada di hadapanku. Tangannya terangkat. Bersiap mengirim pukulan mematikan. Tapi pukulan itu dapat kutangkis dengan mudah. Tidak puas dengan serangannya, dia mengirim serangan susulan. Pukulan beruntun. Aku dengan tangkas menangkis semua serangan yang dia lancarkan.
Hingga satu pukulan mengenai bahuku.
BUK!
Tapi itu adalah kesempatanku. Lawan terlalu percaya diri hingga pertahanannya terbuka. Aku mengepalkan tangan. Sekuat tenaga aku menghantam perutnya.
BUK!
Dia mundur satu langkah. Wajahnya memerah. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku melompat. Melakukan tendangan memutar. Kakiku menghantam kepalanya dengan kuat.
DUAK!
Dia terpental. Tersungkur tak berdaya. Mulutnya menngeluarkan banyak darah. Dia sudah tak bisa bangkit lagi.
PRITT!
Suara peluit terdengar pekak. Tanda pertarungan dihentikan.
Aku masih terengah-engah. Pandanganku tak lepas dari lawanku. Sorakan penonton menggema.
"Selamat, Yudi! Kau menang!" Guru kami berseru sambil menepuk tangannya. "Kemampuanmu meningkat pesat."
Saat itu aku baru berusia lima belas tahun. Tapi tubuhku jauh lebih besar dari anak seusia. Fisik ayah benar-benar menurun kepadaku.
Aku mulai berlatih di perguruan bela diri sejak usia sepuluh tahun. Ibu membawaku ke tempat di mana ayahku dulu menimba ilmu. Mungkin ia ingin aku tumbuh sekuat ayah. Oleh karena itu ia memasukanku ke perguruan yang sama.
Aku menyukai seragam beladiri di sini. Terutama pelatihnya. Dengan warna hijau gelap dihiasi aksara China di bagian punggung. Ditambah ukiran garis kuning yang melilit bagian celana.
Aku masih ingat saat pertama datang ke tempat ini.
Kami mendaki bukit menuju lapangan luas yang dikelilingi pepohonan. Udaranya sejuk. Di tepi lapangan, sungai kecil mengalir jernih, memantulkan cahaya matahari sore. Ikan-ikan sesekali melompat dari air.
Di lapangan itu, murid-murid sedang berlatih dengan semangat. Tubuh mereka melompat lincah, gerakannya indah dan bertenaga. Seperti menyaksikan manusia terbang. Bahkan mereka bisa melompati delapan orang yang berbaris rapi. Melompat bagai seekor Harimau yang gagah berani.
Aku di tuntun oleh ibuku ke sebuah rumah panggung yang terletak tidak jauh dari lapangan. Kami menemui seseorang yang tidak kukenal. Aku tidak peduli siapa yang hendak ditemui dan apa yang akan dibicarakann Ibu. Aku hanya fokus melihat aksi akrobat dari lapangan itu, Sangat memukau. Tanpa kusadari seseorang memanggilku.
Seorang kakek tua. Kurang lebih usianya tujuh puluh tahun. Wajahnya yang keriput terlihat tegas. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Matanya yang teduh sempurna menatapku. Dia tersenyum. Senyuman yang tulus.
Dia memegang bahuku. Menepuk-nepuknya.
"Yudhistira... Anak dari murid terbaikku." Kakek tua itu tersenyum. Matanya teduh.
Ibu menunduk sopan. "Saya membawanya kemari agar kau bisa membimbingnya."
Kakek itu tertawa. Lalu menatapku dalam.
"Selamat datang di keluarga besar kami," kakek tua itu menatapku, masih tersenyum. "Tapi luruskan terlebih dahulu niatmu belajar di sini. Jangan karena didasari oleh dendam yang besar sehingga engkau ingin menjadi lebih kuat untuk membalaskannya. Jangan sampai kau terjerumus ke jalan yang salah anakku... jangan ikuti hawa nafsumu. Bersihkan hatimu agar kau dapat menjadi pejuang yang selalu membela kebenaran.."
Aku hanya mengangguk.
Hari berikutnya aku mulai berlatih. Para murid menyambutku dengan hangat. Semangatku tumbuh.
Teknik demi teknik kupelajari. Minpo, Godiak, dan lain-lain. Dalam waktu sebulan, aku menguasai semuanya.
Setiap gerakan di perguruan ini memiliki makna filosofis. Di akhir latihan, kakek tua itu selalu memberikan petuah yang menusuk hati. Menyalakan api perjuangan di dalam dada kami.
Di tahun pertama, aku mengalahkan semua teman seangkatanku.
Tahun kedua, Di tahun kedua, aku mulai bisa menandingi para seniorku. Tapi setiap senior yang aku lawan selalu berakhir imbang. Tanpa pemenang.
Tapi kali ini aku dapat mengalahkan salah satu seniorku. Wajahnya yang lebam tersenyum kepadaku. Dia di bawa kepinggir arena. Darah segar masih mengalir di mulutnya.
Aku balas tersenyum. Lalu beranjak meninggalkan arena. Diiringi dengan sorakan dari para penonton yang tidak lain adalah murid-murid perguruan ini.
"Kau hebat, Yudi!" Temanku Rama merangkul bahuku. Wajahnya tersenyum bangga. "Sepertinya saat ini aku bukan tandinganmu lagi, kawan...."
"Dari dulu kau memang bukan tandinganku Rama! lagi pula tadi aku hanya beruntung." Aku menyeringai.
"Bagaimana mungkin tadi kau hanya beruntung, bodoh! Jelas sekali kau menendang kepalanya tadi, sulit sekali bagi petarung biasa melakukan gerakan sehebat itu. Dan posisimu dengannya hanya berjarak satu langkah, SATU LANGKAH!! Dan kau dapat melompat dengan leluasa lalu mengayunkan kakimu tepat menghantam kepalanya! Serangan tadi fatal sekali."
Aku hanya tertawa kecil.
"Kau sedang tidak ada jadwal pertarungan, Rama?"
"Ada... tapi giliranku masih lama... dan lagi-lagi aku selalu mendapat lawan yang mudah. Kau ingat si gendut berkacamata itu? Dia akan menjadi lawanku nanti."
"Bukannya kau pernah melawannya bulan lalu? Kenapa kau melawan dia lagi?."
"Entahlah... mungkin dia ingin membalas kekalahannya dulu."
"Kau harus berhati-hati! Bisa saja dia dapat mengalahkanmu kali ini... karna akhir-akhir ini kuperhatikan dia berlatih lebih giat dari biasanya."
"Kau bergurau Yudi? Mana mungkin dia bisa mengalahkanku... kau ingat dulu aku hampir mengalahkanmu? Walau hasilnya tetap kau yang menang. Tapi setidaknya kemampuanku masih jauh melebihi di gendut itu."
"Jangan kau remehkan dia, Rama! Kau akan malu jika dia berhasil mengalahkanmu."
"Terserah kau sajalah... kita lihat saja nanti." Rama menghela nafas perlahan. Dia meninggalkanku. berjalan ke arah yang berlawanan.
Aku hanya tersenyum.
Kami berpisah di persimpangan. Aku berjalan sendiri. Perjalanan ke rumah masih jauh. Angin sore mengiringi langkahku.
Wajah ayahku tiba-tiba melintas dalam ingatan. Senyum teduhnya. Tatapan lembutnya. Aku merindukannya...
Ayah... kapan kau akan pulang?
***
Aku tiba di depan rumah. Mengetuk pintu.
“Ibu...?”
Tak ada jawaban.
Aku mengetuk lagi, lebih keras. Tetap sunyi.
Ke mana Ibu?
Dadaku mulai sesak oleh rasa cemas yang merayap pelan-pelan. Ada keganjilan yang sulit dijelaskan, seolah udara sore berubah lebih dingin dari biasanya.
Kuraih gagang pintu. Tidak terkunci.
Aku mendorongnya perlahan dan melangkah masuk.
Rumah sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan detik jam dinding terdengar menyerupai palu yang memukul nadi.
“Ibu?” panggilku lagi, suaraku parau.
Aku menyusuri ruang demi ruang. Hingga tiba di kamar Ibu.
Dan hatiku tercekat.
Tubuh Ibu tergeletak di lantai, tepat di samping ranjang. Matanya terpejam, wajahnya pucat seperti bulan yang kehabisan cahaya.
Aku berlari menghampirinya.
“Ibu! Ibu bangun! Ibu!”
Dengan tangan gemetar, aku mengecek nadinya. Alhamdulillah… masih ada. Masih berdetak.
Ibu hanya pingsan.
Perlahan kuangkat tubuh ringkih itu dan membaringkannya di atas ranjang. Menatap wajah Ibu yang tenang, namun menyimpan luka yang dalam. Ada jejak air mata di sudut matanya.
Apa yang terjadi, Bu?
Aku menunduk, mencoba mencari petunjuk. Tanganku meraba-raba lantai di tempat Ibu terjatuh tadi.
Dan aku menemukannya.
Sepucuk surat bersampul putih gading. Di atasnya tercetak stempel resmi berlogo kepolisian.
Surat itu sedikit basah. Mungkin oleh air mata Ibu.
Kugenggam surat itu erat-erat. Nafasku tercekat. Tanganku bergetar saat mulai membacanya, kata demi kata.
Hening menyelimuti kamar. Hening... hingga dunia seolah berhenti.
Sampai akhirnya mataku menatap baris terakhir kalimat itu. Dan hatiku runtuh.
“Eksekusi...?”
Tidak mungkin....
Tubuhku mematung. Dadaku seperti diremas sesuatu yang tak terlihat.
Tiba-tiba air mata meledak dari mataku. Aku berteriak sekeras-kerasnya.
“AYAAAHHH!!!”
Aku merobek surat itu. Meremasnya sekuat tenaga, seolah ingin menumpahkan segala kemarahan yang meledak-ledak di dalam dadaku. Tapi kertas itu tak bersalah. Yang bersalah adalah dunia ini. Sistem ini. Orang-orang yang menyusun takdir sekejam ini.
Ayahku... seorang polisi... seorang pelindung rakyat...
Mengapa dia harus dihukum mati?
Kenapa dia yang menghilang... lalu kembali hanya dalam bentuk kalimat dingin dalam secarik kertas?
Apa dosa Ayah sebenarnya? Apa yang mereka sembunyikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Menghantam kepalaku tanpa ampun. Menghancurkan akal sehatku. Merobek hati kecilku yang selama ini bertahan.
Dan dalam kehancuran itu, lahirlah satu hal.
Dendam.
Bukan dendam buta. Tapi dendam yang lahir dari luka yang terlalu dalam. Dendam yang perlahan berubah menjadi kobaran tekad. Membakar nurani yang telah lama dingin.
Aku tahu siapa musuhku.
Mereka yang bersih di layar kaca, tapi busuk dalam kenyataan. Mereka yang tertawa riang sambil menginjak hak orang kecil. Mereka yang menciptakan hukum... untuk dilanggar sesuka hati. Yang menyuruh kami diam… sementara mereka menari di atas penderitaan kami.
Aku mengepalkan tinju.
Mulai sekarang, permainan akan berubah.
Jika selama ini rakyat kecil yang mereka permainkan... maka saatnya kami membalikkan papan catur.
Jika mereka pikir mereka dewa… maka biarkan kami menjadi badai yang menggulingkan langit.
Senyum dari seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak—dan siap mengambil semuanya kembali.
***
Aku masih mematung di atas gedung empat lantai.
Jalanan di bawah sana masih ramai. Entah sejak kapan, entah sampai kapan. Aku pun tak berharap semuanya berhenti. Ada sesuatu dalam kekacauan ini yang justru terasa… wajar.
Udara sore hari terasa panas menusuk. Asap mengepul dari mobil dan toko yang dibakar membumbung menutup langit. Dari kejauhan terdengar teriakan dan denting kaca pecah. Para penjarah berkeliaran, merampas apa pun yang bisa dirampas. Toko-toko milik warga Tionghoa jadi sasaran utama. Mereka tidak peduli lagi siapa korban, yang penting mereka puas.
Tak ada yang menertibkan. Tak ada hukum. Para penegak hukum justru sedang bertarung habis-habisan dengan mahasiswa—anak-anak muda yang katanya idealis, katanya ingin menggulingkan kekuasaan yang terlalu lama bercokol di singgasana.
Angin sore di atap ini berhembus pelan, lembut seperti menyanyikan lagu pengantar ajal. Membelai rambutku, mengusap wajahku yang gerah. Burung-burung pulang ke sarangnya. Kicau mereka terdengar sayup di antara letusan, jeritan, dan isak yang terselip di hiruk-pikuk kota ini.
Andai tak ada asap yang menutup pandangan, aku pasti akan menyebut pemandangan ini indah.
Tapi tidak. Di bawah sana, yang kulihat justru mimpi buruk yang berjalan dengan kepala tegak.
Jalanan beton memerah. Darah berserakan. Kekerasan telah menjelma menjadi rutinitas. Bangunan runtuh, koran beterbangan. Mahasiswa tak kenal lelah. Polisi kehabisan akal.
Dan kemudian, aku menyaksikan pemandangan yang tak kupahami: polisi-polisi itu, satu demi satu, mulai tak segan untuk membunuh mahasiswa.
"Sedang apa kau di sini, Yudi? Bukankah ini yang kau inginkan? Kerusuhan, kekacauan? Ayo, kita berpesta!"
Aku menoleh. Rama berdiri di belakangku. Teman lamaku. Senyum bengisnya tak berubah. Darah mengering di tangannya. Mungkin dia baru saja menyelesaikan sesi ‘tarian maut’-nya bersama polisi di bawah sana.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanyaku datar.
Dia tertawa seperti orang yang tidak punya takut pada maut.
"Dasar bodoh! Dari bawah kau tampak seperti patung. Berdiri, diam, termenung seperti bocah yang baru pertama kali melihat dunia terbakar. Seharusnya kau turun, bertarung. Kalau kau yang maju, barisan polisi itu bisa selesai dalam sekejap."
"Kau terlalu melebih-lebihkan."
Aku menunjuk ke arah bawah, memperlihatkan pasukan polisi berbadan kekar, wajah mereka keras seperti batu.
"Mereka bukan polisi biasa."
Rama mendengus.
"Kau takut?"
"Dasar idiot! Bukan takut, tapi aku tahu batas. Aku hanya memperingatkanmu, siapa tahu kau terpental sebelum sempat memukul satu saja dari mereka."
Aku tertawa. Rama ikut tertawa. Tapi tawa kami—samar. Ada sesuatu yang lebih dalam. Seolah kami tahu bahwa setelah ini… takkan ada lagi tawa yang sama.
"Baiklah bajingan! Ayo kita lihat siapa yang lebih hebat!" seru Rama, berlari ke tepi gedung.
Aku memandanginya, bingung. Tapi dia terus berteriak:
"HEY, PARA POLISI DI SANA! DI SINI ADA RAMA DAN YUDHISTIRA! MAJU, KALAU KALIAN BERANI!"
Dia menoleh, senyum gila itu kembali muncul.
"Kita tunggu mereka."
Aku ikut menengok ke bawah. Polisi-polisi itu kini memperhatikan kami. Tapi satu dari mereka membuatku terdiam.
Dia berdiri di barisan paling depan. Wajahnya tertutup buf hitam. Hanya matanya yang tampak. Tapi aku merasa... dia mengenalku.
Aku berpaling ke Rama.
"Rama... lihat itu."
Dia menghampiriku, penasaran.
Begitu dia melihat ke bawah, dia terkekeh.
"Mereka datang. Dua puluh orang. Dan mereka langsung mengepung pintu masuk gedung kita."
Aku tidak menyahut. Pikiranku dibanjiri pertanyaan. Mengapa dua orang seperti kami bisa membuat mereka segelisah ini?
Lalu, semuanya bergerak cepat. Polisi-polisi itu masuk gedung. Tanpa suara, dalam barisan rapi.
"Baiklah," kataku pelan. "Kalau memang harus bertarung, kita akan hadapi. Sambil kita cari tahu... siapa yang mengatur semua ini."
Rama mengangguk. Kami bersiap.
Detik berikutnya, pintu besi itu terhempas. Satu hentakan, dan semuanya berubah. Dua puluh polisi masuk. Lalu pemimpin mereka muncul. Penuh percaya diri, matanya tajam, langkahnya santai.
“Siapkan senjata!”
Kami terkejut. Mereka membawa senjata. AK47. Bukan pentungan, bukan tameng.
Aku dan Rama saling tatap. Ada panik di matanya. Tapi dia tidak mundur.
“Ini buruk,” Rama mendesis. “Aku tidak menyangka mereka akan menggunakan senjatanya.”
Aku menatap pemimpin polisi itu, mencoba memancing.
“Tidak adil, kalian membawa senjata sebanyak ini hanya untuk dua orang. Bukankah kalian pengecut?”
Pemimpin itu tertawa. “Aku tidak ingin melakukan ini. Tapi setelah nama itu disebut, semuanya berubah...”
Dia berhenti. Menatapku. Dalam.
“…kau akan selalu berada di jalan yang benar, bukan, Yudi?”
Aku terdiam. Jantungku berdetak pelan. Bagaimana dia tahu namaku?
Rama pun membisu.
Lalu, pemimpin itu menunduk. Suaranya berubah lirih.
“Kalian hanya pion. Boneka. Kalian tak tahu siapa yang mengatur semua ini.”
Dia mengangkat tangannya. “Turunkan senjata!”
Para polisi menuruti. Tapi hanya sesaat.
“MATILAH!” Teriaknya kemudian. “SERANG!”
Dan semuanya bergerak. Dua puluh polisi menyerbu. Sepuluh ke arahku, sepuluh ke arah Rama.
Kami bertarung. Seolah hari ini adalah akhir dari segalanya.
Pertarungan yang berdarah. Sengit. Membabi buta.
Tapi di tengah pertempuran itu, saat darah, keringat, dan nafas jadi satu—aku menyadari sesuatu.
Ini belum akhir.
Belum.
Dan ternyata, pertarungan ini hanyalah awal dari neraka yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar