pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kota malam itu gemerlap, dihiasi lampu-lampu neon yang berpendar di sepanjang jalanan yang sibuk. Suara kendaraan, langkah-langkah orang yang berlalu-lalang, dan tawa-tawa lepas membaur menjadi satu, tapi di antara semua itu, ada ketenangan yang hanya milik mereka berdua—Isa dan Bella.
Isa berjalan perlahan di samping Bella, langkah kakinya tenang, seolah menyesuaikan dengan ritme dunia Bella. Ia melirik sekilas, tersenyum kecil saat melihat wajah gadis itu bersinar di bawah sorotan lampu. Ada sesuatu dalam sorot mata Bella—sesuatu yang membuat Isa merasa dunia ini, sejenak, adalah tempat yang indah.
“Isa, lihat! Itu karakter favoritku, dari anime yang aku ceritakan waktu itu!” Bella berseru riang, jari telunjuknya menunjuk penuh semangat ke arah poster besar yang menempel di dinding gedung.
Matanya berbinar, seolah semua cahaya kota berkumpul di sana.
Isa hanya mengangguk pelan, matanya lembut, menatap Bella dengan rasa hangat yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun selain dia. Ia tidak perlu mengerti tentang anime, atau tentang dunia Bella yang penuh warna. Baginya, cukup melihat Bella bahagia.
“Aku senang melihat kamu gembira.” Isa menatap Bella, hampir berbisik, seolah takut merusak keajaiban malam itu.
Bella menoleh, senyumnya begitu tulus hingga membuat dunia Isa berhenti berputar sesaat.
“Terima kasih. Kamu selalu begitu... selalu membuatku merasa spesial.” Suara lembut, senyuman manisnya mengembang.
Isa hanya balas tersenyum tipis, tapi di dalam hatinya, kata-kata Bella mengukir sesuatu yang tak akan mudah pudar.
Mereka terus berjalan, kadang-kadang jarak di antara mereka menghilang, seolah dunia memaksa mereka lebih dekat. Bella sesekali menggandeng tangan Isa—sesuatu yang tidak biasa bagi Isa, yang biasanya menjaga jarak dengan siapa pun. Tapi dengan Bella, ia membiarkan semuanya mengalir. Ada rasa nyaman yang tidak bisa dijelaskan, seolah Bella adalah satu-satunya yang bisa menyentuh sisi rapuh dalam dirinya.
Di sebuah taman kecil, tempat kenangan-kenangan kecil mereka terpatri, mereka berhenti. Hanya ada desiran angin, gemuruh jauh kendaraan, dan tawa kecil Bella yang mengalun ringan.
Bella duduk di bangku, menatap langit yang bertabur bintang. Tangannya bertumpu di lutut, tubuhnya santai, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya malam itu—sebuah pertanyaan yang berat.
“Aku selalu berpikir soal takdir. Kamu percaya takdir, Isa?” Tanyanya pelan, suaranya menyatu dengan angin malam.
Isa menoleh, matanya penuh pertimbangan. Ia menatap Bella, seolah ingin membaca semua rahasia yang bersembunyi di balik tatapan gadis itu.
“Takdir, ya?” Suara Isa dalam dan jujur. “Aku tidak tahu. Tapi... kalau takdir adalah tentang bertemu denganmu, mungkin... aku percaya.”
Bella tersenyum. Senyum itu—tulus, sederhana, tapi penuh keajaiban—membuat Isa merasa seluruh dunia berhenti untuk memberi ruang bagi mereka.
“Kamu selalu punya cara... untuk membuatku merasa spesial, Isa. Selalu.” Bella menatap ke depan, ke arah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Suaranya gemetar ringan, penuh perasaan.
Isa tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, diam-diam berjanji dalam hatinya untuk melindungi senyuman itu selamanya.
Tanpa berkata apa-apa, Bella menyandarkan kepalanya di bahu Isa. Di bawah langit malam, di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak mereka hiraukan, mereka duduk berdua, saling menemukan kehangatan dalam kebisuan.
Lalu Bella berkata, dengan suara yang lebih berat, seolah takut pada jawabannya sendiri, “Kalau suatu hari nanti... kita harus berpisah, atau ada sesuatu yang memisahkan kita... apa kamu akan tetap mengingatku, Isa?”
Isa menarik napas dalam, berat. Ia memandang ke langit, lalu ke dalam mata Bella.
“Aku tidak tahu, Bella...” Isa menghela napas pelan. “Tapi aku ingin percaya... bahwa meski seluruh dunia ini runtuh, rasa ini tidak akan pernah pergi dari hatiku.”
Bella terdiam, menatap Isa dengan mata yang berkilau oleh emosi yang tak terucapkan. Ia ingin menangis, tetapi ia tersenyum, karena malam ini adalah malam yang ingin ia kenang dengan bahagia.
Mereka berbicara lebih banyak malam itu—tentang mimpi, harapan, dan kenangan yang ingin mereka simpan sampai kapan pun. Setiap tawa mereka, setiap kata yang terucap, menjadi bintang-bintang kecil yang memperindah langit malam mereka.
Saat akhirnya harus berpisah di depan rumah Bella. Isa menatapnya lama, seolah ingin mengabadikan wajah itu di dalam ingatannya.
“Aku... bahkan untuk satu malam, aku akan tetap merindukanmu.” Bella tersenyum tipis, melambaikan tangan dari depan pintu rumahnya.
Isa tersenyum, sebuah senyum yang menahan banyak rasa di baliknya. “Aku juga, Bella. Tapi jangan khawatir... aku akan selalu membawa malam ini bersamaku.”
Bella menatapnya untuk terakhir kali malam itu, lalu perlahan masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup, namun Isa tetap berdiri di sana, menatap tempat Bella menghilang, merasakan sesuatu dalam dadanya yang membuat napasnya berat—sebuah firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
**
Isa berjalan menyusuri trotoar yang kosong, sendirian di bawah cahaya lampu jalan yang suram. Angin malam membelai wajahnya, membawa suara-suara samar dari kejauhan. Tapi Isa tidak mempedulikannya. Ia terlalu larut dalam kenangan tentang senyuman Bella, tawa ringannya, dan hangatnya tangan yang pernah menggenggamnya.
Langkah-langkahnya bergema di jalanan sepi. Di kejauhan, ada suara lain—langkah-langkah asing. Awalnya Isa mengabaikannya, mengira itu hanya orang lain yang melintas. Tapi suara itu tak pernah menjauh. Mereka mengikutinya... dengan ritme yang terlalu sengaja.
Ia berhenti di persimpangan. Lampu lalu lintas berkedip merah di atasnya, kosong tanpa kendaraan. Isa mendongak, menatap bulan yang berselimut tipis awan, mencoba mencari ketenangan. Tapi ketenangan itu tak datang.
Langkah-langkah itu semakin dekat.
Isa menoleh, hatinya waspada. Jalanan kosong. Tidak ada siapa pun. Hanya bayang-bayang panjang yang dilemparkan oleh lampu-lampu jalan.
Ia melangkah lebih cepat, mendengar suara itu mengikutinya—irama yang melekat pada setiap langkahnya.
Dan akhirnya, ia melihat mereka.
Sosok-sosok berkerudung gelap muncul dari bayang-bayang, satu demi satu, membentuk barisan sunyi yang bergerak ke arahnya. Mata mereka memancarkan cahaya dingin, penuh ancaman yang tak terucapkan.
Isa berhenti. Napasnya memburu, dadanya menegang.
“Siapa kalian?” Isa bertanya, suaranya tegas tapi ada getaran tipis yang mengalir dalam kata-katanya.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang merayap, lebih mengerikan daripada teriakan.
Satu sosok maju, berdiri hanya beberapa langkah dari Isa. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat sederhana.
Dan seperti ombak yang menerjang pantai, mereka menyerbu.
Isa mundur, punggungnya menabrak dinding batu dingin di belakangnya. Tak ada jalan keluar. Hanya dirinya... dan mereka.
Tangannya mengepal, tubuhnya bersiap. Tapi jauh di dalam hatinya, satu pikiran berbisik—tentang Bella. Tentang malam itu. Tentang janji diam-diam yang ia ucapkan dalam hati.
Bahwa tak peduli apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan kenangan itu menghilang.
Tidak malam ini.
Dan saat bayangan-bayangan itu menelan dirinya, Isa menguatkan diri.
Untuk Bella. Untuk segalanya.
Komentar
Posting Komentar