pada tanggal
Prolog Novel/Preview
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di sebuah kota kecil yang perlahan dilupakan zaman, hiduplah seorang pemuda bernama Astra. Ia bukan siapa-siapa—hanya seorang tukang kayu biasa yang kesehariannya dihabiskan di bengkel kayu tua peninggalan kakeknya.
Dalam dunia yang sibuk memburu popularitas dan kekayaan, pekerjaan Astra dianggap tak lebih dari sisa-sisa masa lalu. Banyak teman-temannya berbondong-bondong pergi ke kota besar, mengejar gemerlap yang katanya abadi. Namun Astra tetap tinggal. Entah karena keterikatan, atau mungkin karena sebuah keyakinan kecil yang tak pernah ia pahami sepenuhnya.
"Semua yang kita kejar akan hilang pada waktunya," kata kakeknya dulu, duduk di bawah pohon beringin sambil menyeruput teh. "Tapi makna dari apa yang kita lakukan... itu akan tinggal lebih lama daripada tubuh kita sendiri."
Waktu berlalu. Gudang kayu Astra semakin sepi. Tapi tangannya tetap setia bekerja—mengukir patung kayu sebagai seni, membuat kerajinan yang mengandung makna mendalam.
Kadang ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah semua ini sia-sia?
Suatu sore di musim semi, seorang gadis kecil datang ke bengkel Astra. Ia membawa boneka kayu patah—boneka yang dulu dibuat oleh kakek Astra bertahun-tahun lalu.
"Om Astra," katanya dengan suara kecil, "bisakah boneka ini diperbaiki? Ini hadiah terakhir dari kakekku sebelum beliau pergi."
Astra tersenyum, hatinya hangat. Dengan telaten, ia memperbaiki boneka itu, memperhalus ukirannya, dan menambahkan pita kecil berwarna biru—warna favorit gadis itu.
Astra tersenyum. Ia sadar, mungkin dunia tak akan mencatat namanya, tak akan membangun monumen untuknya. Tapi di hati kecil seorang gadis, di tangan-tangan yang pernah ia bantu, di dalam kenangan yang tak bisa dihapus waktu—di sanalah ia abadi.
Dan itu lebih dari cukup.
#AdsSense
Komentar
Posting Komentar